adsbanner 728x90 - Lintaspedia.com

Lintaspedia.com – Setelah Prancis menang 1-0 atas Paraguay di Piala Dunia 2026, dunia maya gempar.

adsbanner 1080x1920 - Lintaspedia.com

Senator Paraguay, Celeste Amarilla, mengunggah serangkaian komentar rasisme terhadap kapten Prancis, Kylian Mbappé.

Unggahan tersebut memicu perselisihan publik, mendorong penyelidikan oleh jaksa Prancis, dan memicu reaksi politik di Paraguay.

“Bahasa yang sangat ekstrem yang ia gunakan, serta normalisasi terhadap bahasa tersebut, menciptakan preseden yang berbahaya,” kata Troy Townsend.

Townsend adalah mantan pesepak bola profesional dan mantan kepala keterlibatan pemain di Kick It Out, sebuah organisasi berbasis di UK yang berupaya mengatasi diskriminasi dalam sepak bola.

“Pola pikir dan sikap tersebut sudah ada terlalu lama dan meledak pada salah satu ajang terbesar,” ujarnya.

Daftar panjang pelecehan rasial

Kontroversi Mbappé hanyalah satu dari beberapa insiden selama turnamen.

Insiden lainnya mencakup:

  • Tiga pemain Belanda menjadi sasaran pelecehan rasial secara daring setelah gagal mengeksekusi penalti melawan Maroko.
  • Seorang pendukung Argentina berkata kepada seorang influencer media sosial untuk “pergi menangis di kebun binatang”.
  • Seorang pendukung Meksiko meminta maaf karena membuat gerakan tubuh secara rasis kepada seorang warga Korea Selatan.
  • Pendukung Mesir dan Tanjung Verde melaporkan bahwa pendukung Argentina melemparkan bir dan botol kepada mereka.
  • Pelatih Mesir, Hossam Hassan, menyilangkan lengannya membentuk huruf X saat pertandingan berlangsung—gestur pelaporan anti-rasisme resmi FIFA.

Rasisme Terus Berlanjut di Piala Dunia 2026! Pelecehan Daring Meningkat di Balik Euforia

Daftar insiden diskriminatif di turnamen ini panjang, dan ragam pelecehannya tampak belum pernah terjadi sebelumnya, sebagaimana ditunjukkan oleh data FIFA sendiri.

Layanan Perlindungan Media Sosial FIFA mengidentifikasi lebih dari 89.000 unggahan bernada pelecehan selama fase grup saja, menandai peningkatan 13 kali lipat dibandingkan turnamen sebelumnya di Qatar pada 2022.

Dari 89.000 unggahan tersebut, 11%-nya merupakan pelecehan bermotif rasial.

FIFA mencatat beberapa faktor mungkin berkontribusi terhadap lonjakan tersebut, termasuk perluasan turnamen dari 32 menjadi 48 tim, serta kemajuan teknologi deteksi yang digunakan untuk mengidentifikasi konten pelecehan.

Menanggapi temuan FIFA tersebut, serikat pemain global Fifpro memperingatkan bahwa para pesepak bola menghadapi “pola pelecehan yang terus berkembang” baik secara daring maupun langsung.

“Insiden-insiden ini bukan kejadian yang berdiri sendiri; ini menunjukkan pola sistemik yang tidak boleh diterima sebagai bagian dari sepak bola maupun masyarakat,” kata organisasi tersebut.

Para peneliti yang mempelajari rasisme dalam sepak bola berpendapat bahwa insiden-insiden tersebut merupakan bagian dari tren yang lebih luas.

“Rasisme tidak pernah hilang. Rasisme sangat licik dan berubah bentuk dalam setiap generasi,” kata Prof Daniel Kilvington dari Leeds Beckett University dan salah satu pendiri jaringan Sport & Discrimination.

Ia berpendapat bahwa meskipun rasisme terang-terangan di stadion telah menurun dibandingkan dekade-dekade sebelumnya, media sosial telah menyediakan saluran baru yang memungkinkan pelecehan menyebar dengan cepat dan secara global.

“Namun yang menjadi masalah, bukan hanya rasisme yang berpindah ke ruang daring sehingga orang merasa lebih berani untuk mengatakan hal-hal [yang melecehkan]. Di dalam dan sekitar stadion, kita juga mulai melihat peningkatan kembalinya fenomena tersebut,” katanya.

Rasisme Terus Berlanjut di Piala Dunia 2026! Pelecehan Daring Meningkat di Balik Euforia

Townsend menilai pelecehan rasisme di stadion harus dipisahkan dari pelecehan daring dan ia percaya otoritas sepak bola enggan menjatuhkan sanksi yang cukup berat untuk menjadi efek jera yang bermakna.

“Kita [perlu] mulai melihat hukuman penjara, atau negara-negara dijatuhi sanksi karena basis pendukung mereka dan dikeluarkan dari kompetisi… Jika Anda tidak mampu mengendalikan pendukung Anda, mengapa Anda harus diizinkan bermain dalam beberapa kompetisi terbesar?” tanyanya.

Dia berpendapat bahwa otoritas sepak bola masih kekurangan efek pencegah yang efektif. Kemudian, seperti apa sebenarnya keberhasilan dalam melawan rasisme perlu lebih dijelaskan.

Rasisme Terus Berlanjut di Piala Dunia 2026! Pelecehan Daring Meningkat di Balik Euforia

Kilvington juga memperingatkan bahwa kecerdasan buatan dan teknologi deepfake menciptakan peluang baru untuk menyebarkan disinformasi bernuansa rasis.

Dia merujuk pada sebuah klip palsu yang diklaim menunjukkan pelatih Belanda, Ronald Koeman, membuat pernyataan rasis.

Dia meyakini sebagian konten pelecehan di internet dibentuk oleh kelompok-kelompok kebencian.

“Mereka mungkin penggemar sepak bola atau mungkin terkait dengan kelompok sayap kanan ekstrem … Mereka akan menyebarkan disinformasi dan berita palsu untuk merekrut dan menarik para penggemar tersebut agar mengikuti cara berpikir mereka,” kata Kilvington.

Rasisme sistemik

Sementara itu, dampak pelecehan rasial yang dihadapi pemain melampaui pertandingan sepak bola. Dampaknya memengaruhi karier profesional, kesejahteraan mental, bahkan kehidupan keluarga mereka, menurut Townsend.

Ia mengatakan dirinya lega kekalahan Inggris 2-1 dari Argentina di semifinal tidak ditentukan melalui adu penalti.

“Saya sangat senang pertandingan itu tidak melibatkan kesalahan dari seorang pemain kulit hitam. Saya bersyukur bahwa … pagi ini kita tidak bangun dan mendapati pelecehan terhadap para pemain tersebut.”

Rasisme Terus Berlanjut di Piala Dunia 2026! Pelecehan Daring Meningkat di Balik Euforia

Townsend mengatakan bahwa dirinya sendiri juga menghadapi banyak pelecehan.

“Ketika saya dikirimi emoji monyet, saya benar-benar tahu alasan di baliknya. Saya pernah menerima pesan seperti: ‘Semoga kamu segera mati’. Dan itu berasal dari seorang anak laki-laki yang berusia kurang dari 16 tahun.

“Namun beberapa pelecehan terburuk berupa gambar kelompok supremasi kulit putih Amerika Ku Klux Klan, dan gambar orang kulit hitam yang digantung. Gambar-gambar seperti ini terus dikirim kepada para pemain.”

Bagi Townsend maupun Kilvington, rasisme yang terlihat pada Piala Dunia tahun ini bukan sekadar kisah tentang sepak bola.

Mereka berpendapat bahwa pelecehan yang ditujukan kepada pemain dan pendukung mencerminkan tren yang lebih luas dalam masyarakat, ketika media sosial telah menguatkan permusuhan, anonimitas, dan polarisasi.

“Rasisme menginfeksi seluruh sistem, itu adalah rasisme sistemik,” kata Kilvington.

“[Piala Dunia] hanyalah mikrokosmos dari satu olahraga pada satu momen tertentu. Rasisme ada dalam setiap aspek kehidupan lainnya di seluruh dunia.”

  • Rasisme dalam sepak bola Indonesia tinggi, ‘kalau dibiarkan akan diikuti oleh suporter lain’
  • Piala Dunia 2026: Siapa yang menang dan siapa yang kalah dari sisi keuangan?
  • Belgia singkirkan AS, Balogun tetap diturunkan – Ada apa di balik kontroversi kartu merah Balogun yang dibatalkan FIFA?
  • ‘Sebuah keajaiban takdir’ – Kisah unik di balik foto pertemuan Lionel Messi dan Lamine Yamal ketika bayi
  • Indonesia, China, dan India tidak tampil di Piala Dunia – Mengapa jumlah penduduk tidak menjamin kesuksesan negara dalam sepakbola?
  • Pendukung Jepang yang bersih-bersih stadion usai pertandingan Piala Dunia dikritik para perempuan – ‘Lakukan juga dalam rumah tanggamu!’
  • Persahabatan atlet Jerman dan atlet kulit hitam yang beraksi di depan Adolf Hitler di Olimpiade Berlin 1936

Sumber: BBC News Indonesia

adsbanner 728x90 - Lintaspedia.com

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.