adsbanner 728x90 - Lintaspedia.com

Lintaspedia.com – Sebuah kapal angkatan laut terlihat berlayar di Selat Hormuz pada 1 Maret 2026 lalu. Foto: Sahar AL ATTAR / AFP

adsbanner 1080x1920 - Lintaspedia.com

Iran pada hari Minggu (19/7) mengeklaim telah menghentikan dua kapal yang berusaha melintasi Selat Hormuz tanpa izin, sebuah insiden terbaru dalam ketegangan yang terus meningkat antara Teheran dan Washington terkait penguasaan atas salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia.

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan dalam sebuah pernyataan bahwa sebenarnya ada empat kapal yang berupaya keluar dari Selat Hormuz melalui jalur yang dianggap tidak aman oleh pihak Iran. “Empat kapal pelanggar, dengan dukungan dan provokasi teroris Amerika, berupaya mengganggu situasi dan keluar dari Selat Hormuz melalui jalur yang tidak aman. Dua di antaranya mengalami insiden dan dihentikan di lokasi,” tulis IRGC seperti dilansir kantor berita AFP.

Iran Tahan 2 Kapal Tak Berizin di Selat Hormuz

IRGC menambahkan bahwa dua kapal lainnya akhirnya membatalkan pelayaran mereka setelah insiden tersebut. Pernyataan ini tidak merinci secara spesifik identitas kapal, pemilik, maupun muatan yang mereka bawa, namun mengisyaratkan bahwa pihak Iran secara aktif menerapkan klaim otoritasnya atas selat tersebut dengan pendekatan yang lebih ketat.

Klaim Iran atas penguasaan eksklusif atas lalu lintas maritim di Selat Hormuz bukanlah hal baru. Namun, eskalasi terkini muncul dalam konteks yang jauh lebih panas. Sebelumnya pada minggu yang sama, Iran sempat memperingatkan bahwa mereka akan memberikan “respon yang tegas” jika tanker minyak tidak menggunakan jalur yang telah disetujui oleh Teheran. Peringatan ini menggemakan klaim sebelumnya bahwa, berdasarkan draf perjanjian damai awal dengan pemerintahan Presiden Donald Trump, Iran memegang wewenang tunggal atas lalu lintas maritim di selat sempit tersebut.

Selat Hormuz, yang dijuluki “sumbat dunia”, merupakan titik lewat bagi sekitar 20% pasokan minyak global dan menjadi medan perebutan pengaruh geopolitik yang kritis.

Tindakan Iran ini terjadi tepat setelah Amerika Serikat merampungkan gelombang serangan ke Iran selama delapan malam berturut-turut. Menurut Komando Pusat Militer AS (CENTCOM), serangan terbaru menyasar fasilitas pengawasan pesisir, sistem pertahanan udara, serta kemampuan rudal dan drone Iran. Tujuannya adalah untuk melemahkan kapabilitas militer Teheran, khususnya yang berkaitan dengan pengawasan dan proyeksi kekuatan di kawasan pesisir dan selat strategis.

Iran Tahan 2 Kapal Tak Berizin di Selat Hormuz

Situasi ini telah menciptakan kekhawatiran besar akan gangguan terhadap pasokan energi global. Ketika Selat Hormuz kembali ditutup atau lalu lintasnya terganggu, harga minyak dunia langsung bereaksi tajam, sempat melonjak sekitar 3,5%. Ancaman terhadap pasokan energi internasional menjadi sorotan utama di pasar komoditas global, memaksa negara-negara pengekspor dan pengimpor minyak untuk mempertimbangkan skenario terburuk.

Di tengah ketegangan ini, upaya diplomasi dan mediasi internasional terus berjalan. Oman, negara yang berada di ujung selatan Selat Hormuz, disebutkan telah mengajukan proposal perencanaan tarif. Di bawah proposal tersebut, Iran dan Oman akan mengumpulkan pembayaran dari setiap kapal yang melewati selat. Namun, Iran bersikeras tidak akan membahas isu-isu lain dalam pembicaraan damai sampai kesepakatan tentang penguasaan Hormuz dicapai.

Sementara itu, di dalam negeri, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) turut menyerukan agar masyarakat global bersama-sama mendesak penghentian eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Seruan ini mencerminkan kekhawatiran luas akan dampak konflik regional terhadap stabilitas dan kemanusiaan.

Iran juga secara terbuka menegaskan bahwa mereka “tidak akan mengizinkan” negara lain untuk melakukan operasi pembersihan ranjau di Selat Hormuz, menyatakan hanya Teheran yang akan mengambil alih tugas tersebut. Klaim atas otoritas tunggal ini memperpanjang narasi penguasaan, meskipun koalisi yang dipimpin AS dan negara-negara Teluk dikabarkan sedang berupaya membuka jalur pelayaran alternatif baru di sekitar pengaruh Iran.

  • Iran mengeklaim menghentikan dua dari empat kapal yang berusaha melintasi Selat Hormuz tanpa izin pada Minggu (19/7).
  • Insiden ini terjadi setelah Iran memperingatkan akan memberikan “respon yang tegas” terhadap pelanggaran.
  • Ketegangan berlatar serangan militer AS selama delapan malam dan sengketa penguasaan atas selat strategis yang dilewati 20% pasokan minyak global.

Perebutan kendali atas Selat Hormuz telah berubah menjadi pertarungan terbuka. Di satu sisi, Iran berusaha mempertahankan dan memonetisasi cengkeramannya dengan menuntut otoritas tunggal dan berpotensi mengenakan biaya tol. Di sisi lain, AS dan sekutunya berupaya menavigasi jalur alternatif dan membangun kembali kebebasan navigasi melalui kekuatan militer dan diplomasi. Konsekuensi dari krisis ini tidak terbatas pada dua negara, tetapi langsung berdampak pada stabilitas ekonomi dan keamanan energi seluruh dunia.

Pertanyaan Umum

Mengapa Iran menghentikan kapal di Selat Hormuz?

Iran menghentikan kapal tersebut karena mengeklaim mereka berusaha melintasi selat menggunakan jalur yang dianggap tidak aman dan tanpa izin dari otoritas Iran, yang mempertegas klaim Teheran atas penguasaan eksklusif atas lalu lintas maritim di kawasan tersebut.

Apakah insiden ini berhubungan dengan konflik AS-Iran?

Ya, insiden ini terjadi dalam eskalasi besar-besaran antara AS dan Iran. Iran secara eksplisit menuduh AS memberikan “dukungan dan provokasi” kepada kapal-kapal yang ditahan, dan kejadian ini berlangsung setelah AS menyelesaikan serangkaian serangan militer terhadap target Iran selama delapan malam.

Apa dampak dari ketegangan di Selat Hormuz ini terhadap dunia?

Dampak utamanya adalah terhadap pasokan energi global. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi sekitar 20% minyak dunia. Gangguan di selat ini langsung mendorong melonjaknya harga minyak dan menciptakan ketidakpastian besar bagi pasar energi dan ekonomi global.

Ringkasan

Iran pada Minggu (19/7) mengklaim menghentikan dua dari empat kapal yang berupaya melintasi Selat Hormuz tanpa izin melalui jalur yang dianggap tidak aman. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan kapal-kapal tersebut mendapat dukungan dan provokasi dari Amerika Serikat, sementara dua kapal lainnya membatalkan pelayaran setelah insiden.

Insiden ini terjadi setelah AS merampungkan serangan militer ke Iran selama delapan malam dan di tengah sengketa penguasaan atas selat strategis yang dilewati sekitar 20% pasokan minyak global. Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dunia, dengan harga minyak sempat melonjak sekitar 3,5%, serta mendorong upaya diplomasi seperti proposal tarif dari Oman.

Sumber: Kumparan

adsbanner 728x90 - Lintaspedia.com

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.