Advertisement

Lintaspedia – Kemenangan comeback Argentina 2-1 atas Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 di Atlanta Stadium, Rabu (16/7/2026) WIB, mengantarkan Lionel Messi dan rekan-rekannya ke partai final sekaligus memutus rekor spektakuler yang dipegang Bayern Munchen selama 44 tahun.

Kekalahan Inggris memastikan final melawan Spanyol di New York New Jersey Stadium menjadi final Piala Dunia pertama sejak edisi 1978 yang tidak menampilkan satu pun pemain dari klub raksasa Jerman tersebut. Rekor tak terputus Bayern yang dimulai sejak Piala Dunia 1982 akhirnya menemui batasnya di tangan gol-gol telat dari Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez.

Inggris sebenarnya memegang kendali pertandingan setelah Anthony Gordon membuka keunggulan pada menit ke-55. Gol yang lahir dari umpan silang Morgan Rogers itu tampak mengarahkan The Three Lions ke partai puncak. Namun, Argentina menunjukkan ketangguhan juara bertahan. Fernandez menyamakan kedudukan pada menit ke-85, sebelum Lautaro Martinez, yang masuk sebagai pemain pengganti, mencetak gol kemenangan pada masa injury time menit ke-90+2. Kedua gol krusial tersebut lahir dari assist Lionel Messi, yang kini berpeluang meraih gelar top skor turnamen.

Advertisement

Hasil ini tidak hanya mengirim Argentina ke final ketiga dalam empat edisi terakhir, tetapi juga mengonfirmasi prediksi para pengamat. Football enthusiast Gigih, dalam podcast Super Taktik di Kantor Tribunnews Solo, sebelumnya menilai Argentina selalu menjadi favorit karena transisi skuad yang mulus dan kehadiran faktor X dari Lionel Messi.

“Argentina juga menjadi salah satu favorit juara karena proses transisi skuad yang berjalan mulus serta adanya faktor X dari Lionel Messi,” kata Gigih.

Di balik kemenangan dramatis itu, terdapat catatan sejarah yang menghubungkan dua klub elite Eropa: Bayern Munchen yang rekor panjangnya terputus, dan Inter Milan yang justru memperpanjang tradisi uniknya.

Advertisement

Rekor 44 Tahun Bayern Munchen yang Berakhir Dramatis

Sejak final Piala Dunia 1982, Bayern Munchen selalu memiliki setidaknya satu pemain yang tampil di partai penentuan juara dunia. Tradisi ini terjaga selama 11 edisi berturut-turut, mencakup berbagai generasi pemain bintang dari berbagai negara.

Dimulai pada 1982, tiga pemain Bayern—Paul Breitner, Wolfgang Dremmler, dan Karl-Heinz Rummenigge—membela Jerman Barat yang kalah dari Italia. Pada 1986, Klaus Augenthaler, Norbert Eder, Lothar Matthäus, dan Dieter Hoeneß tampil untuk Jerman Barat yang lagi-lagi kalah dari Argentina.

Puncak kejayaan pemain Bayern di final terjadi pada 1990, ketika enam wakil dari klub itu—Raimond Aumann, Klaus Augenthaler, Jürgen Kohler, Hans Pflügler, Stefan Reuter, dan Olaf Thon—membantu Jerman Barat mengalahkan Argentina 1-0. Sejak itu, wakil Bayern selalu hadir, meski dari berbagai negara: Jorginho (Brasil, 1994), Bixente Lizarazu (Prancis, 1998), Oliver Kahn dan tiga rekan lainnya (Jerman, 2002), Willy Sagnol (Prancis, 2006), Arjen Robben dan Mark van Bommel (Belanda, 2010).

Tulang punggung keberhasilan Jerman pada Piala Dunia 2014 juga banyak dihiasi pemain Bayern: Manuel Neuer, Thomas Müller, Bastian Schweinsteiger, Jérôme Boateng, Philipp Lahm, Mario Götze, dan Toni Kroos. Pada 2018, Corentin Tolisso turut membawa Prancis juara. Edisi 2022 di Qatar menjadi yang terakhir dengan kehadiran dua pemain Prancis dari Bayern, Dayot Upamecano dan Kingsley Coman, meski gagal mencegah Argentina juara.

Rangkaian panjang itu akhirnya terputus pada 2026. Harry Kane, satu-satunya wakil Bayern di semifinal, gagal membawa Inggris ke final. Sejak Piala Dunia 1978, yang dimenangkan Argentina, ini pertama kalinya final tidak diisi pemain Bayern.

Inter Milan: Tradisi yang Dipertahankan Lautaro Martinez

Sementara Bayern kehilangan rekor, Inter Milan justru memperpanjang catatan serupa yang bahkan lebih konsisten. Gol kemenangan Lautaro Martinez untuk Argentina tidak hanya mengantarkan negaranya ke final, tetapi juga memastikan Nerazzurri memiliki perwakilan di partai puncak untuk edisi ke-13 secara beruntun sejak 1982.

Tradisi Inter di final Piala Dunia dimulai pada tahun yang sama dengan Bayern, yakni 1982, ketika tiga pemain mereka—Beppe Bergomi, Gabriele Oriali, dan Alessandro Altobelli—menjadi bagian dari skuad Italia yang juara. Pada 1986, Karl-Heinz Rummenigge (Jerman Barat) menjadi wakil Inter. Pada 1990, tiga pemain Inter: Andrea Brehme, Jürgen Klinsmann, dan Lothar Matthäus, menjuarai turnamen bersama Jerman Barat.

Catatan ini terus berlanjut: Nicola Berti (Italia, 1994), Youri Djorkaeff dan Ronaldo (Prancis & Brasil, 1998), Ronaldo kembali (Brasil, 2002), Marco Materazzi (Italia, 2006), Wesley Sneijder (Belanda, 2010), Rodrigo Palacio (Argentina, 2014), Marcelo Brozović dan Ivan Perišić (Kroasia, 2018), serta Lautaro Martinez sendiri pada 2022. Kini, Lautaro mengukuhkan namanya dalam sejarah tersebut dengan kontribusi langsung di lapangan.

Kehadiran pemain-pemain kunci dari kedua klub di panggung final Piala Dunia selama puluhan tahun menunjukkan betapa kualitas dan mentalitas kompetitif kedua institusi ini secara konsisten berada di puncak sepak bola dunia. Final 2026 menjadi titik di mana dua jalur sejarah tersebut berpisah drastis.

Argentina kini bersiap menghadapi Spanyol. Kemenangan akan membuat mereka menjadi negara pertama sejak Brasil (1994-1998) yang mampu mempertahankan gelar juara dunia sekaligus mengukuhkan status mereka sebagai kekuatan dominan baru di era pasca-Messi. Sejarah baru sedang ditulis, sementara sejarah lama yang panjang akhirnya menemui akhirnya.

“Argentina juga menjadi salah satu favorit juara karena proses transisi skuad yang berjalan mulus serta adanya faktor X dari Lionel Messi.”

— Gigih, Football Enthusiast

Pertanyaan Umum

Mengapa rekor Bayern Munchen dianggap begitu istimewa?

Rekor Bayern Munchen istimewa karena durasinya yang sangat panjang dan konsisten. Selama 44 tahun atau 11 edisi Piala Dunia berturut-turut (1982-2022), klub ini selalu memiliki minimal satu pemain di final. Rekor ini menunjukkan kemampuan Bayern dalam mengembangkan atau mempertahankan pemain kelas dunia yang menjadi tulang punggung timnas kuat seperti Jerman, Prancis, Belanda, dan Brasil.

Bagaimana Inter Milan bisa memiliki catatan yang lebih panjang dari Bayern?

Inter Milan memiliki catatan yang lebih panjang karena mereka memiliki perwakilan di final Piala Dunia setiap edisi sejak 1982 hingga 2026, termasuk final 2026 ini. Total 13 edisi beruntun. Catatan ini dicapai berkat keberagaman pemain internasional berkualitas yang dimiliki klub, mulai dari legenda seperti Karl-Heinz Rummenigge dan Lothar Matthäus hingga bintang modern seperti Ronaldo, Wesley Sneijder, dan Lautaro Martinez.

Apa arti kemenangan ini bagi peluang Argentina di final?

Kemenangan ini mengonfirmasi Argentina sebagai favorit kuat. Mereka menunjukkan mentalitas juara dengan comeback dari posisi tertinggal. Dengan kemenangan ini, Argentina berpeluang mempertahankan gelar juara dunia dan memenangkan gelar keempat sepanjang sejarah mereka. Keberhasilan comeback juga memperkuat keyakinan terhadap faktor penentu seperti Lionel Messi, yang kini berpotensi meraih gelar topskor.

Sumber: tribunnews.com

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *