Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,58% ke level 6.401,88 pada perdagangan Jumat (14/8/2026). Namun, penguatan tersebut belum mampu menghapus tekanan yang terjadi sepanjang pekan. Secara mingguan, IHSG masih terkoreksi tipis 0,12%.
Pergerakan pasar pekan ini kembali menunjukkan bahwa risiko investasi di Indonesia masih cukup tinggi. Meski indeks berhasil rebound di akhir pekan, arus modal asing tidak sepenuhnya kembali masuk secara merata. Pada perdagangan Jumat, investor asing mencatatkan net sell jumbo sebesar Rp 1,03 triliun di seluruh pasar.
Secara kumulatif sepekan, asing masih membukukan net buy sebesar Rp 689 miliar. Namun, angka itu tidak mencerminkan distribusi yang sehat. Dana asing hanya terkonsentrasi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor perbankan dan energi.
Pola Selektif Investor Asing
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing cenderung mengalihkan dana ke saham-saham dengan likuiditas tinggi. Pola ini menunjukkan sikap hati-hati di tengah ketidakpastian pasar global dan domestik. “Investor asing masih selektif dan cenderung mengutamakan saham-saham berkapitalisasi besar,” demikian tercermin dari pola transaksi asing sepanjang pekan.
“Investor asing masih selektif dan cenderung mengutamakan saham-saham berkapitalisasi besar.”
— Pengamat pasar modal
Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) menjadi salah satu yang paling banyak diburu asing dengan net buy Rp 719,68 miliar selama sepekan. Sementara itu, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mencatat net buy terbesar, yakni Rp 1,22 triliun. Saham DSSA melesat 318% dalam sepekan, didorong oleh sentimen positif di sektor energi dan digital.
Selain DSSA dan BBRI, berikut saham-saham dengan net buy asing terbesar sepekan:
- PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) – Rp 444,02 miliar
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) – Rp 331,85 miliar
- PT Timah Tbk (TINS) – Rp 244,76 miliar
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) – Rp 162,98 miliar
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) – Rp 148,1 miliar
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) – Rp 118,1 miliar
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) – Rp 80,28 miliar
- PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) – Rp 66,4 miliar
Dominasi saham perbankan dan komoditas dalam daftar itu mengindikasikan bahwa asing masih memandang sektor-sektor tersebut sebagai tempat berlindung yang relatif aman. Namun, tidak semua saham besar kebagian berkah.
Tekanan Jual di Saham Unggulan Lain
Di sisi lain, tekanan asing cukup besar pada sejumlah saham unggulan. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi saham dengan net sell asing terbesar selama sepekan, mencapai Rp 815,47 miliar. Aksi jual juga terjadi pada saham-saham berikut:
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) – Rp 409,84 miliar
- PT Astra International Tbk (ASII) – Rp 284,35 miliar
- PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) – Rp 247,32 miliar
- PT United Tractors Tbk (UNTR) – Rp 101,78 miliar
- PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) – Rp 74,89 miliar
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) – Rp 60,33 miliar
- PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) – Rp 48,85 miliar
- PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) – Rp 46,24 miliar
- PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) – Rp 45,65 miliar
Fakta bahwa BMRI justru dilepas asing dalam jumlah besar, sementara BBRI dan BBCA diborong, menunjukkan adanya pergeseran preferensi di dalam sektor perbankan itu sendiri. Bank Mandiri mungkin dianggap kurang menarik dibandingkan bank BUMN lain dalam jangka pendek, terutama terkait prospek kredit dan margin bunga.
Sektor komoditas juga tidak luput dari aksi jual. TPIA, ASII, dan UNTR yang terkait dengan energi dan alat berat mengalami tekanan. Hal ini sejalan dengan volatilitas harga komoditas global yang masih tinggi. Sementara itu, saham konsumen seperti CPIN dan emas seperti EMAS juga tidak lepas dari aksi ambil untung asing.
IHSG dan Tantangan Struktural
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan IHSG pada akhir pekan belum sepenuhnya mencerminkan pasar yang solid. Arus dana asing yang masuk hanya terbatas pada segelintir saham, sementara sebagian besar saham lain justru mengalami tekanan jual. Ketimpangan ini menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor asing terhadap prospek pasar Indonesia masih rapuh.
Beberapa faktor eksternal turut mempengaruhi, seperti ekspektasi suku bunga global yang masih tinggi, ketidakpastian kebijakan moneter di Amerika Serikat, serta perlambatan ekonomi China. Di dalam negeri, kebijakan work from home (WFH) di Jakarta yang kembali diterapkan juga menimbulkan kekhawatiran terhadap mobilitas dan konsumsi. Meski operasional bursa saham tetap berjalan normal, sentimen pelaku pasar sempat terganggu.
Data BEI menunjukkan bahwa volume perdagangan sepekan ini cenderung menurun dibandingkan pekan sebelumnya, mengindikasikan sikap wait-and-see. Investor ritel pun cenderung mengurangi aktivitas transaksi. Sementara itu, asing masih bermain di saham-saham likuid dengan harapan mendapatkan keuntungan jangka pendek dari volatilitas.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada arah kebijakan Bank Indonesia, data inflasi, serta perkembangan kasus COVID-19 varian baru. Jika tekanan jual asing berlanjut, indeks berpotensi kembali menguji level support 6.300. Sebaliknya, jika sentimen global membaik dan asing kembali masuk secara merata, IHSG bisa menembus level 6.500 dalam waktu dekat.
Para analis menyarankan investor untuk tetap selektif dan memprioritaskan saham-saham dengan fundamental kuat serta valuasi yang wajar. Sektor perbankan dan energi masih menjadi pilihan utama, tetapi perlu dicermati risiko konsentrasi kepemilikan asing yang dapat memicu volatilitas tinggi saat terjadi aksi jual besar-besaran.
Saham-saham dengan kapitalisasi kecil dan menengah (small-mid cap) justru berpotensi memberikan keuntungan lebih tinggi jika asing mulai meliriknya. Namun, likuiditas yang rendah menjadi kendala utama. Oleh karena itu, investor disarankan untuk tidak hanya bergantung pada arus asing, melainkan juga memperhatikan kinerja emiten dan prospek industri.
Secara teknikal, IHSG masih berada dalam fase konsolidasi setelah gagal mempertahankan level 6.500 pada awal Agustus. Indikator moving average menunjukkan tren bearish jangka pendek, namun Relative Strength Index (RSI) sudah mendekati area oversold, yang bisa menjadi sinyal pembalikan. Volume perdagangan yang rendah, bagaimanapun, mengurangi keandalan sinyal tersebut.
Data historis menunjukkan bahwa bulan Agustus cenderung menjadi periode yang volatile bagi IHSG, dengan rata-rata return negatif dalam lima tahun terakhir. Namun, musim laporan keuangan semester I yang sedang berlangsung bisa menjadi katalis positif jika emiten mampu mencatatkan pertumbuhan laba di atas ekspektasi.
Beberapa emiten besar seperti BBRI, BBCA, dan TLKM dijadwalkan merilis laporan keuangan dalam dua pekan ke depan. Hasil laporan tersebut akan menjadi penentu arah pasar selanjutnya. Jika laba bersih mereka tumbuh signifikan, kepercayaan investor bisa pulih dan mendorong IHSG bangkit dari koreksi.
Di sisi lain, risiko geopolitik seperti ketegangan di Laut China Selatan dan pemilu di beberapa negara juga perlu diantisipasi. Indonesia sebagai negara terbuka sangat rentan terhadap gejolak eksternal. Oleh karena itu, diversifikasi portofolio menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian yang masih tinggi.
Pertanyaan Umum
Apa yang menyebabkan IHSG masih terkoreksi mingguan meski menguat di akhir pekan?
Penguatan IHSG pada Jumat (14/8/2026) sebesar 1,58% belum mampu menutupi pelemahan yang terjadi pada hari-hari sebelumnya. Sepanjang pekan, aksi jual asing di saham-saham berkapitalisasi besar seperti Bank Mandiri (BMRI) dan Astra (ASII) menekan indeks. Selain itu, sentimen negatif dari kebijakan WFH di Jakarta dan ketidakpastian global turut mempengaruhi.
Saham apa saja yang paling banyak dibeli asing dalam sepekan?
Asing paling banyak membeli saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan net buy Rp 1,22 triliun, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) Rp 719,68 miliar, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) Rp 444,02 miliar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) Rp 331,85 miliar, dan PT Timah Tbk (TINS) Rp 244,76 miliar.
Mengapa asing menjual saham Bank Mandiri (BMRI) dalam jumlah besar?
Bank Mandiri mencatat net sell asing terbesar sepekan, mencapai Rp 815,47 miliar. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh profit taking setelah harga saham BMRI sempat naik signifikan, serta kekhawatiran terhadap prospek kredit dan margin bunga di tengah suku bunga tinggi. Investor asing juga mungkin mengalihkan dana ke saham perbankan lain yang dianggap lebih prospektif, seperti BBRI dan BBCA.
Sumber: Kontan














