Advertisement

PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL) berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja yang solid pada semester I-2026. Perusahaan konstruksi yang berfokus pada segmen gedung ini membukukan pendapatan usaha sebesar Rp 2,05 triliun, naik 22,75% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,67 triliun. Capaian ini menegaskan posisi TOTL sebagai salah satu emiten konstruksi yang relatif tahan terhadap perlambatan belanja infrastruktur pemerintah.

Laba bersih perseroan juga mengalami lonjakan signifikan sebesar 54,60% menjadi Rp 269,74 miliar dari sebelumnya Rp 174,48 miliar pada semester I-2025. Peningkatan laba yang lebih tajam dibandingkan pertumbuhan pendapatan ini menunjukkan efektivitas strategi efisiensi yang diterapkan manajemen sepanjang paruh pertama tahun ini.

Corporate Secretary TOTL, Anggie S. Sidharta, menjelaskan bahwa peningkatan kinerja perseroan didorong oleh optimalisasi bisnis dan efisiensi yang terus dilakukan untuk menjaga kinerja berkelanjutan. “Untuk target pendapatan 2026, saat ini masih inline dengan target yang telah ditetapkan yaitu Rp 3,9 triliun dan akan terus dipantau,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (11/8/2026).

Advertisement

Dukungan Segmen Data Center dan Hospitality

Dari sisi pendapatan, jasa konstruksi menjadi penopang utama dengan kontribusi senilai Rp 2,04 triliun, sementara pendapatan lainnya menyumbang Rp 10,33 miliar. Hingga Juni 2026, nilai kontrak baru TOTL tercatat mencapai sekitar Rp 2,8 triliun, yang berasal dari berbagai proyek antara lain pembangunan gedung hospitality, rumah sakit, dan data center.

Diversifikasi portofolio proyek ini menjadi kunci ketahanan TOTL di tengah tekanan sektor konstruksi. Berbeda dengan sejumlah emiten konstruksi lain yang sangat bergantung pada proyek infrastruktur pemerintah seperti jalan tol, TOTL justru mendapatkan porsi pendapatan yang lebih besar dari segmen swasta. Hal ini membuat dampak dari perlambatan belanja konstruksi pemerintah relatif lebih terbatas bagi kinerja perseroan.

Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, mengidentifikasi tiga faktor utama yang mendorong kinerja solid TOTL pada semester I-2026. Pertama, kualitas dan diversifikasi proyek yang baik. Kedua, adanya structural tailwind dari pembangunan data center yang terdorong oleh digitalisasi, cloud computing, dan artificial intelligence. Ketiga, profitabilitas TOTL yang tidak bergantung semata pada pertumbuhan pendapatan.

Advertisement

Hal ketiga ini terlihat jelas dari kinerja kuartal I-2026. Pendapatan usaha kuartal tersebut justru turun 1,14% year-on-year menjadi Rp 837,71 miliar, tetapi laba bersih naik 37,33% menjadi Rp 104,1 miliar. Salah satu penopangnya adalah kenaikan laba proyek ventura bersama serta pendapatan lain-lain.

“Bagi kontraktor seperti TOTL, proyek data center relatif menarik karena membutuhkan spesifikasi engineering yang tinggi, sehingga berpotensi memberikan value-added dan margin yang lebih baik dibandingkan proyek konstruksi yang sangat price-sensitive.”

— Nafan Aji Gusta, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas

Resiliensi Berbasis Kualitas, Bukan Siklus Industri

Pandangan senada disampaikan Adrian Djie, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia. Menurutnya, ketahanan kinerja TOTL di tengah sentimen negatif sektor konstruksi utamanya disebabkan oleh perbedaan segmen proyek yang digarap. “TOTL lebih terekspos pada segmen gedung, data center, dan hospitality, alih-alih infrastruktur konektivitas yang menjadi sumber tekanan sejumlah emiten konstruksi,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (11/8/2026).

Adrian menambahkan bahwa kinerja TOTL sepanjang semester I-2026 ditopang oleh disiplin operasional yang baik. Perusahaan tetap aktif mengembangkan lini bisnis baru seperti proyek data center sembari menjaga momentum perolehan kontrak baru secara konsisten. Kombinasi antara operasional yang efisien dan akuisisi proyek yang berkelanjutan menciptakan fondasi yang kuat bagi pertumbuhan berkelanjutan.

Nafan menegaskan bahwa resiliensi TOTL lebih mencerminkan kualitas backlog, mix proyek, efisiensi, dan kemampuan menjaga margin, bukan karena industri konstruksi sedang dalam fase ekspansif. Pernyataan ini penting karena menggarisbawahi bahwa kekuatan TOTL bersifat struktural, bukan sekadar mengikuti siklus bisnis konstruksi yang fluktuatif.

Prospek Semester II dan Risiko yang Perlu Diwaspadai

Hingga akhir 2026, kinerja TOTL diproyeksikan masih bisa melanjutkan tren positif. Menurut Nafan, sentimen positifnya berasal dari backlog dan kontrak baru yang kuat, terutama apabila proyek data center dan commercial building terus masuk. Pertumbuhan data center masih menjadi katalis struktural yang berpotensi berlangsung dalam jangka panjang seiring kebutuhan infrastruktur digital yang terus meningkat.

Eksposur ke sektor swasta membuat TOTL relatif lebih defensif dibandingkan kontraktor yang sangat bergantung pada proyek pemerintah. Selain itu, efisiensi dan disiplin margin berpotensi mempertahankan pertumbuhan laba lebih tinggi daripada pertumbuhan pendapatan. “Apabila suku bunga domestik semakin akomodatif, biaya pendanaan dan appetite investasi sektor properti juga berpotensi membaik,” ungkap Nafan.

Sementara itu, Adrian memproyeksikan bahwa hingga akhir 2026, prospek kinerja perusahaan masih sejalan dengan panduan manajemen. Realisasi kontrak baru yang telah mencapai Rp 2,8 triliun dari total target tahunan sebesar Rp 4 triliun menjadi dasar keyakinan tersebut. Prospek pertumbuhan ini utamanya didorong oleh tren pembangunan data center yang terus berlanjut.

Namun, kedua analis juga mengingatkan sejumlah risiko yang perlu diwaspadai investor. Nafan menyebutkan bahwa sentimen negatif bisa berasal dari perlambatan ekonomi atau investasi swasta yang dapat membuat developer menunda proyek baru. Selain itu, kenaikan harga material, biaya tenaga kerja, persaingan tender, dan tekanan margin tetap menjadi risiko utama industri konstruksi secara keseluruhan.

Faktor suku bunga juga menjadi variabel penting. Jika penurunan suku bunga berlangsung lebih lambat dari ekspektasi, keputusan investasi developer dan pembangunan gedung komersial bisa tertunda. Sebaliknya, pelonggaran moneter justru bisa menjadi katalis positif bagi kinerja TOTL di paruh kedua tahun ini.

Adrian juga menambahkan perlunya mencermati risiko pemberat berupa fluktuasi harga material konstruksi akibat ketidakpastian geopolitik global. Ketidakpastian ini dapat memengaruhi biaya proyek dan margin perseroan, meskipun kemampuan manajemen dalam mengelola efisiensi operasional menjadi penyeimbang yang signifikan.

Rekomendasi Analis: Varian Antara Sell on Strength dan Wait and See

Dari sisi rekomendasi investasi, terdapat perbedaan pandangan antara kedua analis. Nafan merekomendasikan strategi sell on strength untuk saham TOTL, mengindikasikan bahwa kenaikan harga yang sudah terjadi bisa menjadi momen realizasi keuntungan bagi investor yang sudah masuk lebih awal.

Sementara itu, Adrian dari Kiwoom Sekuritas masih merekomendasikan wait and see untuk sementara waktu. “Dari sisi teknikal, pergerakan saham TOTL saat ini masih berada dalam fase uptrend. Meskipun demikian, kami merekomendasikan wait and see untuk sementara waktu sembari memantau momentum yang lebih optimal untuk menentukan titik masuk,” ungkap Adrian.

Perbedaan rekomendasi ini mencerminkan dinamika pasar yang masih menunggu kejelasan arah suku bunga dan kondisi makroekonomi global. Bagi investor, penting untuk mempertimbangkan profil risiko masing-masing sebelum mengambil keputusan investasi terhadap saham TOTL.

Secara keseluruhan, kinerja TOTL pada semester I-2026 menunjukkan bahwa fokus pada segmen gedung dan data center, disertai disiplin operasional yang ketat, dapat menghasilkan pertumbuhan laba yang mengungguli pertumbuhan pendapatan. Strategi ini menjadi model yang menarik di tengah kondisi industri konstruksi yang belum sepenuhnya pulih dari tekanan belanja infrastruktur pemerintah.

Sumber: Kontan

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *