Lintaspedia.com – 21 April 2026 | Universitas Negeri Jakarta (UNJ) kembali menjadi pusat sorotan dunia pendidikan Indonesia pada awal April 2026. Di satu sisi, kampus ini menjadi lokasi terjadinya sejumlah praktik kecurangan dalam Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK‑SNBT) yang menimbulkan kekhawatiran akan integritas proses seleksi mahasiswa baru. Di sisi lain, lingkungan akademik Jakarta mencatat prestasi gemilang, seperti akreditasi unggul Program Doktor Perbankan Syariah di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, yang menambah dinamika perbincangan tentang kualitas pendidikan tinggi di ibu kota.
UTBK SNBT 2026 di UNJ: Temuan Kecurangan dan Tindakan Penegakan
Pada hari pertama pelaksanaan UTBK‑SNBT 2026, tepatnya 21 April, panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) menemukan dua skema kecurangan utama: perjokian (joki) dan penggunaan alat bantu elektronik. Ketua Tim SNPMB 2026, Eduart Wolok, menyatakan bahwa terdapat lebih dari 2.900 data anomali yang telah diidentifikasi sejak awal pelaksanaan. Praktik perjokian melibatkan peserta yang menggunakan identitas ganda untuk mengisi tempat peserta lain, sementara sebagian kecil peserta menyelundupkan alat bantu dengar yang ditanamkan di telinga untuk memperoleh keuntungan.
- Perjokian: ditemukan di beberapa universitas negeri, termasuk Universitas Negeri Surabaya dan Universitas Negeri Malang, dengan pola identitas yang sama muncul di dua tahun berturut‑turut.
- Alat bantu dengar: kasus paling mengejutkan terjadi di Universitas Diponegoro, di mana seorang peserta harus dibawa ke dokter THT untuk mengeluarkan perangkat yang telah ditanam.
- Modifikasi foto pendaftaran: beberapa peserta mengubah foto secara halus untuk mengelabui sistem pengenalan wajah.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menegaskan bahwa setiap pelanggaran akan dikenai sanksi tegas, mulai dari pengguguran hak mengikuti seleksi hingga tindakan hukum. Ia juga mengimbau 871.496 peserta di seluruh Indonesia untuk menjunjung tinggi integritas, mengingat hasil UTBK dijadwalkan diumumkan pada 25 Mei 2026.
Inovasi Pengawasan: AI dan Deteksi Wajah
Untuk meminimalisir kecurangan, panitia SNPMB mengimplementasikan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang memanfaatkan sistem pendeteksi wajah. Tim teknis yang dipimpin oleh Tjitjik Srie Tjahjandarie menjelaskan bahwa AI mencocokkan gambar wajah peserta dengan database yang sudah ada, sehingga joki yang pernah terlibat pada tahun sebelumnya dapat terdeteksi secara otomatis. Sistem ini juga memproses lebih dari 2.940 temuan anomali, yang kemudian disebarkan ke seluruh pusat UTBK sebagai acuan deteksi lanjutan.
Selain verifikasi wajah, AI mampu menganalisis pola perilaku peserta, seperti durasi pengerjaan dan pola jawaban yang tidak wajar. Jika terdeteksi indikasi kecurangan, peserta langsung masuk daftar hitam (blacklist) dan proses hukum dapat dilanjutkan. Langkah ini menunjukkan komitmen pihak penyelenggara untuk mengintegrasikan teknologi tinggi dalam menjaga keadilan seleksi masuk perguruan tinggi.
Prestasi Akademik di Lingkungan Jakarta: Akreditasi Unggul Program Doktor Perbankan Syariah
Sementara UNJ berjuang mengatasi masalah integritas ujian, kampus lain di Jakarta merayakan pencapaian akademik. Program Studi Doktor (S3) Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta resmi meraih akreditasi unggul dari Lembaga Akreditasi Mandiri Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi (LAMEMBA). Dekan FEB, Prof. Ibnu Qizam, menegaskan bahwa akreditasi ini mencerminkan komitmen pada kurikulum berbasis Outcome‑Based Education (OBE) yang menghasilkan lulusan siap berkontribusi sebagai peneliti, akademisi, praktisi perbankan syariah, bahkan pembuat kebijakan di tingkat global.
Program ini juga sedang bersiap mengganti nomenklatur menjadi S3 Perbankan dan Keuangan Syariah, sejalan dengan Peraturan Menteri Agama Nomor 6 Tahun 2026. Pendaftaran mahasiswa baru untuk semester ganjil 2026/2027 telah dibuka, dengan harapan jalur beasiswa bergengsi seperti Beasiswa LPDP BIB akan segera tersedia, membuka akses bagi talenta terbaik bangsa.
Keberhasilan akreditasi ini menambah citra Jakarta sebagai pusat unggulan pendidikan tinggi, sekaligus memberikan contoh praktik terbaik yang dapat dijadikan acuan bagi institusi lain, termasuk UNJ, dalam meningkatkan kualitas program studi dan proses seleksi masuk.
Dengan tantangan kecurangan UTBK yang menuntut peningkatan pengawasan berbasis AI, serta prestasi akreditasi program doktor yang menegaskan daya saing akademik, universitas‑universitas di Jakarta berada pada persimpangan penting. Upaya kolaboratif antara regulator, penyelenggara ujian, dan institusi pendidikan tinggi menjadi kunci untuk memastikan bahwa proses seleksi dan pendidikan tetap adil, transparan, dan berorientasi pada peningkatan mutu.







