Advertisement

Indeks utama Wall Street ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat (21/8/2026), namun mencatat penurunan dalam sepekan. Kekhawatiran investor terhadap fluktuasi imbal hasil obligasi pemerintah dan kurangnya kejelasan mengenai perkembangan situasi di Timur Tengah mewarnai laju gerak indeks pekan ini.

Mengutip Reuters, indeks Dow Jones Industrial Average naik 517,80 poin atau 0,98% ke level 53.277,01; S&P 500 naik 33,21 poin atau 0,43% ke level 7.674,37; dan Nasdaq Composite naik 113,29 poin atau 0,44% ke level 26.180,46. Volume perdagangan saham di bursa AS mencapai 14,91 miliar saham, dengan rata-rata 16,62 miliar saham dalam 20 hari perdagangan terakhir.

Dalam sepekan, S&P 500 turun 1,43%, Nasdaq turun 2,05%, dan Dow turun 0,85%. Indeks saham berkapitalisasi kecil Russell 2000 turun 1,65%, mencatatkan penurunan terbesar sejak pekan yang dimulai pada 1 Juni.

Advertisement

Kinerja Sektor dan Saham Individual

Dari 11 sektor industri utama S&P 500, sebagian besar mencatat kenaikan pada hari Jumat. Sektor material mencatat kinerja terbaik dengan kenaikan 2,2%, diikuti oleh kenaikan 1,3% di sektor kesehatan dan kenaikan 1% pada saham-saham keuangan. Sektor utilitas menjadi sektor dengan kinerja terburuk, ditutup turun 2,3%, jauh melampaui penurunan 0,2% pada sektor energi yang menempati posisi kedua dalam penurunan terbesar.

Untuk saham individu, Ross Stores ditutup naik 4,4% setelah peritel barang berharga ekonomis tersebut menaikkan perkiraan laba tahunan dan melaporkan hasil kuartalan yang melampaui ekspektasi. Saham platform investasi ritel Robinhood melonjak 13,7%. Operator bursa kripto Coinbase Global naik 8,2% dan perusahaan pemegang bitcoin, MicroStrategy, menguat 6% seiring kenaikan harga bitcoin sebesar 6,4% yang menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Mei.

Indeks S&P 500 dan Nasdaq yang didominasi saham teknologi mengakhiri tren penguatan tiga minggu berturut-turut, sementara Dow mencatat penurunan mingguan untuk kedua kalinya secara berturut-turut.

Advertisement

Imbal Hasil Obligasi dan Sikap Investor

Investor saham memantau arah pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS dalam sesi-sesi perdagangan terakhir, karena prospek biaya pinjaman yang lebih tinggi telah meredam minat terhadap aset berisiko. Saham sempat ditutup lebih rendah pada hari Kamis saat imbal hasil obligasi naik, sementara saham sempat menguat pada hari Rabu saat imbal hasil obligasi turun.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa pemerintah dapat meningkatkan pembelian kembali obligasi lebih lanjut, menyusul pengumuman mengejutkan pada hari Rabu bahwa pemerintah akan membelanjakan dana dua kali lipat dari jumlah yang diperkirakan untuk pembelian kembali obligasi.

Setelah pekan perdagangan yang fluktuatif di Wall Street, Chris Zaccarelli, kepala pejabat investasi di Northlight Asset Management yang berbasis di Charlotte, Carolina Utara, mengatakan bahwa suasana pada hari Jumat tampak lebih tenang.

“Di pertengahan pekan, investor saham khawatir bahwa imbal hasil obligasi akan terus melonjak tanpa henti. Namun, dengan adanya pengumuman dari Departemen Keuangan, investor tidak lagi terlalu khawatir,”

— Chris Zaccarelli, Northlight Asset Management

Kekhawatiran investor juga mereda berkat data ekonomi hari Jumat, yang menunjukkan bahwa pertumbuhan terkuat di sektor jasa AS dalam hampir dua tahun terakhir mendorong percepatan tajam aktivitas bisnis secara keseluruhan pada bulan Agustus. Hal ini mengimbangi perlambatan pertumbuhan di sektor manufaktur yang terhambat oleh berkurangnya penumpukan persediaan dan gangguan pasokan akibat konflik Iran.

Sebelumnya, UBS Global Wealth Management menaikkan target indeks S&P 500 menjadi 8.100 untuk akhir tahun, dengan alasan prospek pendapatan yang lebih kuat dan pertumbuhan laba perusahaan yang solid.

Tekanan Inflasi dan Harga Minyak

Namun, menambah kekhawatiran inflasi, harga minyak berjangka ditutup lebih tinggi selama enam hari berturut-turut setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan menjatuhkan sanksi ekonomi terhadap mitra dagang Iran, sehingga memicu ekspektasi pasokan yang lebih ketat. Selama sepekan, harga minyak Brent berjangka naik 6,39%, sementara minyak mentah AS naik 5,66%.

Agenda Pekan Depan

Pada pekan mendatang, perhatian investor akan tertuju pada laporan kinerja kuartalan dari pemimpin pasar cip AI, Nvidia, serta perusahaan perangkat lunak seperti Intuit, Salesforce, dan CrowdStrike. Rilis data minggu depan mencakup indeks harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi bulan Juli, yang merupakan tolok ukur inflasi pilihan Federal Reserve AS. Angka harga konsumen dan produsen bulan Juli yang moderat telah meredam spekulasi mengenai kenaikan suku bunga bank sentral dalam waktu dekat.

Investor juga menantikan pidato Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam simposium Jackson Hole pada akhir pekan depan.

Pertanyaan Umum

Mengapa Wall Street menguat pada Jumat meski mencatat penurunan mingguan?

Penguatan Jumat didorong oleh meredanya kekhawatiran investor setelah Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana pembelian kembali obligasi yang lebih besar, serta data ekonomi sektor jasa yang kuat. Namun, secara mingguan indeks tetap melemah karena tekanan imbal hasil obligasi dan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Sektor apa yang paling terdampak pekan ini?

Sektor utilitas menjadi yang terburuk dengan penurunan 2,3% pada Jumat, sementara sektor material mencatat kinerja terbaik dengan kenaikan 2,2%. Saham terkait kripto seperti Coinbase dan MicroStrategy menguat seiring kenaikan harga bitcoin.

Apa yang akan memengaruhi pasar pekan depan?

Laporan keuangan Nvidia dan perusahaan teknologi lainnya, data inflasi PCE bulan Juli, serta pidato Ketua The Fed di simposium Jackson Hole akan menjadi fokus utama investor untuk menentukan arah pasar selanjutnya.

Sumber: Kontan

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *