PT Bukit Uluwatu Villa Tbk kembali menggelar aksi korporasi penambahan modal melalui skema hak memesan efek terlebih dahulu dengan mengincar dana segar hingga Rp 1,53 triliun. Langkah strategis emiten pengembang perhotelan dan resor mewah ini dilakukan guna memperkuat struktur permodalan serta menopang rencana ekspansi bisnis di tengah dinamika pasar modal tanah air.
Berdasarkan keterbukaan informasi publik, emiten berkode saham BUVA ini berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 6,15 miliar saham baru. Jumlah penawaran tersebut setara dengan 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah seluruh tahapan Penambahan Modal dengan Memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II selesai dilaksanakan.
Saham baru tersebut memiliki nilai nominal Rp 50 per saham dan ditawarkan kepada investor dengan harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp 250 per saham. Penetapan harga ini berada di bawah pergerakan harga pasar reguler saham perseroan saat ini guna menarik minat partisipasi pemegang saham.
Pada perdagangan Selasa, 4 Agustus 2026, harga saham BUVA terpantau berada di posisi Rp 760 per saham, melemah sekitar 2,56 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Pergerakan saham emiten properti pariwisata ini mencatatkan kecenderungan menurun sepanjang tahun berjalan dengan total depresiasi harga mencapai 49,16 persen.
Manajemen menetapkan rasio hak memesan efek terlebih dahulu sebesar 4:1. Setiap pemegang empat saham lama yang terdaftar secara sah dalam Daftar Pemegang Saham pada 28 September 2026 pukul 16.00 WIB berhak atas satu HMETD, di mana satu HMETD memberi hak untuk membeli satu saham baru perseroan.
Struktur Pembeli Siaga dan Komitmen Pengendali
PT Nusantara Utama Investama selaku pemegang saham pengendali BUVA dengan porsi kepemilikan 61,07 persen atau setara 15,03 miliar saham berhak menerima 3,75 miliar HMETD. Entitas pengendali tersebut telah mengonfirmasi kesiapannya untuk mengeksekusi sebanyak-banyaknya 2,40 miliar HMETD dalam aksi emisi saham baru ini.
Apabila terdapat sisa saham baru yang tidak diserap oleh pemegang HMETD, perseroan bakal mengalokasikannya secara proporsional kepada pemegang saham lain yang mengajukan pemesanan saham tambahan. Prosedur ini diterapkan untuk menjamin keterbukaan akses penyerapan modal bagi investor terdaftar.
Untuk mengantisipasi potensi saham yang tersisa, BUVA telah mengamankan kepastian pendanaan melalui penunjukan empat pihak sebagai pembeli siaga. Kesepakatan ini dituangkan secara resmi dalam standby buyer agreement yang ditandatangani pada 27 Juli 2026.
Para pembeli siaga yang siap menampung sisa saham tersebut meliputi Ferry Sudjono dengan komitmen penyerapan hingga Rp 388,56 miliar, PT Tata Tirta Datun dengan komitmen maksimal Rp 350 miliar, PT Henan Putihrai Sekuritas sebesar Rp 100 miliar, serta Hapsoro dengan nilai komitmen maksimal Rp 100 miliar.
Bagi para pemegang saham lama yang memutuskan tidak menggunakan haknya dalam aksi korporasi ini, kepemilikan saham mereka dipastikan akan mengalami penurunan porsi secara teknis. Tingkat dilusi kepemilikan saham tersebut diperkirakan mencapai maksimum 20 persen setelah rights issue rampung.
Kinerja Keuangan dan Operasional Perusahaan
Pelaksanaan aksi korporasi ini berlangsung beriringan dengan tren pemulihan kinerja operasional perseroan sepanjang paruh pertama tahun ini. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026, BUVA berhasil mencatatkan pendapatan bersih sebesar Rp 173,95 miliar.
Realisasi pendapatan tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 4,71 persen dibandingkan perolehan pada periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 166,12 miliar. Kenaikan tingkat hunian dan aktivitas bisnis jasa perhotelan menjadi penopang utama pendapatan perseroan.
Sejalan dengan peningkatan pendapatan, laba bruto perseroan mengalami kenaikan sebesar 7,33 persen menjadi Rp 120,93 miliar dibandingkan posisi semester pertama 2025 sebesar Rp 112,66 miliar. Pertumbuhan laba kotor ini mengindikasikan efisiensi biaya langsung operasional fasilitas resor perseroan.
Dari sisi aktivitas usaha utama, perseroan membukukan peningkatan laba usaha menjadi Rp 27,40 miliar pada akhir Juni 2026. Angka tersebut naik secara gradual dari capaian laba usaha periode semester pertama tahun lalu yang berada di angka Rp 23,40 miliar.
Meskipun kinerja operasional inti menunjukkan tren pertumbuhan positif, perolehan laba bersih perseroan justru tertekan cukup dalam. BUVA mencatat laba periode berjalan sebesar Rp 8,42 miliar pada semester pertama 2026, merosot drastis dari angka Rp 81,39 miliar pada semester I-2025.
Tekanan signifikan pada pos bottom line perseroan terutama bersumber dari merosotnya kontribusi bagian laba neto entitas asosiasi. Pos pendapatan entitas asosiasi menyusut drastis menjadi Rp 1,99 miliar dari sebelumnya mencapai Rp 77,10 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Selain penurunan dari entitas asosiasi, kinerja keuangan perseroan terbeban oleh rugi selisih kurs sebesar Rp 18,52 miliar akibat fluktuasi nilai tukar rupiah. Perseroan juga mencatat beban keuangan sebesar Rp 2,15 miliar yang turut memangkas perolehan laba bersih periode berjalan.
Dari sisi posisi keuangan konsolidasian, total aset BUVA per 30 Juni 2026 berada pada tingkat Rp 2,73 triliun. Angka ini mencatatkan kenaikan tipis dibandingkan dengan total posisi aset perseroan pada akhir Desember 2025 yang berada di angka Rp 2,71 triliun.
Jadwal Pelaksanaan Rights Issue BUVA
Rangkaian aksi emisi saham baru ini sebelumnya telah mengantongi persetujuan dari para pemegang saham dalam RUPSLB pada 26 Februari 2026. Perseroan menargetkan pernyataan pendaftaran dari Otoritas Jasa Keuangan dapat diperoleh secara efektif pada 16 September 2026.
Berdasarkan skedul indikatif perseroan, tanggal cum-HMETD di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 24 September 2026, disusul ex-HMETD pada 25 September 2026. Sementara itu, cum-HMETD pada pasar tunai dijadwalkan hingga 28 September 2026.
Pencatatan HMETD di Bursa Efek Indonesia akan dilaksanakan pada 30 September 2026. Selanjutnya, perdagangan dan pelaksanaan HMETD bagi para pemegang saham berhak akan berlangsung mulai 1 Oktober sampai 14 Oktober 2026.
Distribusi saham baru hasil pelaksanaan HMETD akan diproses pada rentang 5 Oktober hingga 16 Oktober 2026. Bagi pembeli siaga, batas waktu pembayaran pelunasan atas sisa saham yang tidak diambil bagian ditetapkan pada 21 Oktober 2026.
Penggalangan dana segar dari aksi penerbitan saham baru ini diharapkan mampu memperkuat permodalan perseroan dalam melunasi kewajiban finansial serta mendanai agenda pengembangan portofolio properti dan kawasan wisata premium di masa mendatang.
Pertanyaan Umum
Berapa harga pelaksanaan rights issue BUVA?
Harga pelaksanaan rights issue PT Bukit Uluwatu Villa Tbk ditetapkan sebesar Rp 250 per saham dengan target perolehan dana maksimal mencapai Rp 1,53 triliun.
Siapa saja pembeli siaga dalam aksi korporasi ini?
Pembeli siaga yang berkomitmen menyerap sisa saham terdiri dari Ferry Sudjono, PT Tata Tirta Datun, PT Henan Putihrai Sekuritas, dan Hapsoro berdasarkan kesepakatan pembeli siaga.
Berapa tingkat dilusi bagi pemegang saham yang tidak mengeksekusi HMETD?
Pemegang saham yang tidak menggunakan haknya dalam PMHMETD II ini berpotensi mengalami dilusi kepemilikan saham hingga maksimum 20 persen.
Sumber: Kontan







