Lintaspedia.com – Wilayah pegunungan di Peru berduka setelah dua gempa bumi berkekuatan signifikan mengguncang provinsi Chupaca pada Sabtu malam, menewaskan setidaknya enam orang dan melukai 21 lainnya. Kepala Pertahanan Sipil Nasional Peru mengonfirmasi angka korban tersebut pada hari Minggu, 19 Juli 2026, saat tim darurat terus berupaya membersihkan puing-puing dan mencari kemungkinan korban yang masih terjebak.
Gempa pertama berkekuatan magnitudo 5,1 terjadi pada kedalaman 24 kilometer, diikuti oleh gempa susulan berkekuatan 3,7 pada kedalaman 18 kilometer. Pusat Seismologi Nasional Peru mencatat episenter gempa berada di provinsi Chupaca, wilayah Junín, yang terletak sekitar 300 kilometer di sebelah timur ibu kota negara, Lima. Getaran kuat tersebut langsung berdampak pada komunitas lokal yang sebagian besar bangunannya terbuat dari bata lumpur sederhana.
Luis Vásquez, Kepala Institut Pertahanan Sipil Nasional (INDECI) Peru, kepada stasiun radio lokal Exitosa menyampaikan laporan awal kerusakan yang mengkhawatirkan. “Sebanyak 48 rumah dilaporkan hancur total dan 18 unit lainnya mengalami kerusakan,” ujarnya. Kerentanan struktur bangunan di kawasan tersebut menjadi faktor utama tingginya angka kerusakan dan korban jiwa dalam peristiwa gempa kali ini.

Jumlah rumah yang hancur akibat gempa mencapai 48 unit, sementara 18 lainnya rusak parah, menurut data awal INDECI Peru.
Merespons keadaan darurat tersebut, tim penyelamat dan petugas pemadam kebakaran segera dikerahkan ke lokasi terdampak pada Minggu pagi. Fokus utama mereka adalah membersihkan material bangunan yang runtuh dan menjangkau daerah-daerah terpencil di wilayah pegunungan yang mungkin masih terisolasi. Kekhawatiran utama saat ini adalah masih adanya potensi korban yang tertimbun di bawah reruntuhan, mengingat kondisi geografis yang sulit dan material bangunan yang rapuh.
Peristiwa ini mengingatkan kembali pada posisi geografis Peru yang sangat rentan terhadap aktivitas seismik. Negara ini membentang di sepanjang Cincin Api Pasifik, sebuah zona tektonik aktif yang bertanggung jawab atas sekitar 85 persen aktivitas gempa bumi di seluruh dunia. Interaksi lempeng tektonik Nazca dan Amerika Selatan di wilayah ini secara konsisten menghasilkan gempa bumi berkekuatan tinggi yang berpotensi mengancam nyawa dan infrastruktur.
Peru terletak di salah satu jalur paling aktif secara tektonik di dunia, yakni Cincin Api Pasifik, yang menyumbang lebih dari 80% aktivitas seismik global.
Rangkaian gempa ini bukanlah kejadian terisolasi di kawasan Pasifik akhir-akhir ini. Hanya sepekan sebelumnya, wilayah Indonesia juga diguncang oleh aktivitas gempa tektonik yang signifikan. Pada Selasa, 16 Juni 2026, gempa bermagnitudo 6,7 mengguncang Palu, Sulawesi Tengah, yang dipicu oleh aktivitas Sesar Sausu. Gempa tersebut bahkan memicu hingga 20 gempa susulan dan menyebabkan kerusakan di beberapa kabupaten. Kemudian pada Rabu, 17 Juni 2026, gempa magnitudo 5,1 kembali tercatat di darat wilayah Poso, Sulawesi Tengah, pada kedalaman dangkal 5 kilometer.
Sementara di Peru, upaya pencarian dan pertolongan masih terus berlangsung dengan kondisi yang menantang. Tim darurat harus bekerja melalui medan pegunungan yang curam dan jalan-jalan yang mungkin terputus. Kondisi cuaca dan potensi gempa susulan juga menjadi pertimbangan dalam setiap operasi penyelamatan. Masyarakat setempat kini mengungsi sementara di lokasi yang dianggap lebih aman, menunggu kondisi stabil dan bantuan lebih lanjut dari pemerintah pusat.
Pertanyaan Umum
Apa penyebab utama tingginya korban jiwa dalam gempa di Peru ini?
Salah satu faktor utama adalah material dan struktur bangunan di komunitas terdampak. Sebagian besar rumah di Chupaca dibangun menggunakan blok bata lumpur, yang memiliki ketahanan rendah terhadap guncangan gempa bumi kuat. Hal ini menyebabkan bangunan runtuh dengan mudah saat terjadi getaran, meningkatkan risiko cedera dan kematian bagi penghuninya.
Bagaimana kondisi terkini upaya pencarian korban di lokasi kejadian?
Hingga laporan terakhir pada Minggu pagi, tim darurat dan pemadam kebakaran sedang aktif beroperasi di lokasi. Mereka fokus membersihkan puing-puing dan menjangkau area yang sulit diakses. Kekhawatiran masih ada terhadap kemungkinan korban yang terjebak, sehingga operasi penyelamatan terus dilakukan dengan prioritas keselamatan tim di tengah potensi gempa susulan.
Apakah gempa di Peru ini berpotensi memicu tsunami?
Gempa magnitudo 5,1 yang terjadi berpusat di darat, yakni di wilayah pegunungan Chupaca, bukan di laut. Berdasarkan karakteristik episenter dan kedalamannya, gempa jenis ini umumnya tidak memiliki potensi untuk memicu gelombang tsunami yang mengancam pesisir pantai. Ancaman utamanya adalah kerusakan akibat getaran langsung dan guncangan pada bangunan di daratan.
Ringkasan
Gempa bermagnitudo 5,1 mengguncang provinsi Chupaca, Peru, pada Sabtu malam, menewaskan setidaknya 6 orang dan melukai 21 lainnya. Gempa terjadi pada kedalaman 24 kilometer, diikuti gempa susulan 3,7. Episenter berada di wilayah pegunungan sekitar 300 km timur Lima.
Kepala INDECI Peru, Luis Vásquez, melaporkan 48 rumah hancur total dan 18 unit rusak parah. Kerentanan struktur bangunan dari bata lumpur menjadi faktor utama tingginya kerusakan. Tim darurat sedang berupaya membersihkan puing-puing dan mencari korban yang mungkin masih tertimbun di daerah terisolasi.
Peru terletak di Cincin Api Pasifik, zona tektonik aktif penyumbang sekitar 85% aktivitas gempa global. Gempa ini terjadi hanya sepekan setelah Indonesia juga diguncang gempa signifikan. Upaya penyelamatan masih berlangsung dengan tantangan medan pegunungan yang sulit dan potensi gempa susulan.
Sumber: Kumparan




