Lintaspedia.com – 17 April 2026 | Pemprov Jawa Barat meluncurkan proyek revitalisasi Plaza depan Gedung Sate yang terintegrasi dengan Lapangan Gasibu. Dengan nilai kontrak mencapai Rp15,822,777,000, proyek ini menjadi sorotan publik setelah Gubernur Dedi Mulyadi mengumumkannya pada pertengahan April 2026.
Ruang lingkup dan desain
Desain baru menampilkan plaza terbuka seluas 14.642 meter persegi, menghubungkan Gedung Sate—cagar budaya dan kantor gubernur—dengan Lapangan Gasibu yang berada di seberangnya. Pada titik tengah plaza akan ditempatkan tiang bendera sebagai simbol seremonial. Jalan Diponegoro, yang selama ini membelah kawasan, akan direkonstruksi menjadi koridor melengkung yang melewati tengah Gasibu, sehingga aliran kendaraan tidak lagi terhenti saat terjadi demonstrasi.
Anggaran dan jadwal pelaksanaan
- Total anggaran: Rp15.822.777.000
- Pekerjaan fisik: Rp15.037.177.000
- Konsultasi perencanaan: Rp321.300.000
- Konsultasi pengawasan: Rp464.300.000
Pekerjaan dimulai pada 8 April 2026 dan direncanakan selesai pada 6 Agustus 2026. Selama fase awal, alat berat telah mengangkat paving block lama dan memasang pagar sementara di sepanjang Jalan Diponegoro.
Pernyataan Gubernur Dedi Mulyadi
Gubernur menegaskan bahwa tujuan utama penataan adalah memperbaiki akses dan mengurangi kemacetan yang kerap terjadi ketika aksi massa menutup Jalan Diponegoro. “Pertanyaannya, kenapa harus dipisahkan? Dengan integrasi ini halaman Gedung Sate dapat berfungsi sebagai ruang upacara tanpa mengganggu lalu lintas,” ujar Dedi pada konferensi pers di Gedung Pakuan.
Ia menambahkan bahwa desain baru tetap mempertahankan elemen historis, seperti prasasti yang berada di halaman Gedung Sate, sehingga tidak ada perubahan posisi artefak bersejarah.
Kritik dari kalangan budaya
Beberapa tokoh kebudayaan, termasuk Ketua Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung, Aji Bimarsono, menilai proyek ini sebagai “ekspresi narsisme kekuasaan” yang mengabaikan prioritas pendidikan dan pemberantasan korupsi. Menurutnya, anggaran Rp15 miliar lebih bermanfaat bila dialokasikan untuk program budaya yang bersifat edukatif, bukan sekadar monumen fisik.
Dampak pada lalu lintas dan akses publik
Dengan pengalihan Jalan Diponegoro ke jalur baru yang melewati tengah Gasibu, diharapkan kendaraan tidak lagi terhenti saat demonstrasi di depan Gedung Sate. Rencana tersebut mencakup pembangunan jalur melingkar yang menghubungkan jalan utama dengan gerbang Hotel Pullman, serta penggunaan sebagian area Gasibu untuk jembatan penunjang.
Selain mengurangi kemacetan, penataan plaza diharapkan meningkatkan kualitas ruang publik. Taman barat akan dilengkapi dengan jalur pedestrian lebar, area duduk, dan lanskap hijau, memberi ruang interaksi yang lebih hidup bagi warga Bandung.
Reaksi publik
Warga dan pebisnis di sekitar kawasan menyambut baik upaya memperbaiki infrastruktur, namun tetap menuntut transparansi penggunaan dana. Media sosial dipenuhi komentar yang menilai proyek harus selesai tepat waktu dan tidak mengganggu kegiatan harian masyarakat.
Secara keseluruhan, revitalisasi Gedung Sate‑Gasibu menjadi arena perdebatan antara kebutuhan fungsional, pelestarian nilai sejarah, dan prioritas alokasi anggaran publik.
Proyek ini akan selesai pada pertengahan Agustus 2026, dan akan menjadi titik tolak baru bagi tata ruang pusat Kota Bandung, sekaligus menjadi contoh bagaimana pemerintah daerah mengelola ruang publik di tengah dinamika politik dan budaya.













