Lintaspedia.com – 29 April 2026 | Pada akhir April 2026, tim laporanku mengunjungi sebuah gubuk reyot di Dusun Radu, Desa Bala, Kecamatan Wera, Kabupaten Bima, NTB. Di sana, tiga anak kecil hidup dalam kondisi yang hampir tak tertahankan. Namun, kisah utama yang menjadi sorotan adalah seorang ibu di Pandeglang yang telah menahan beban selama 10 tahun tinggal di rumah gubuk tanpa listrik, berjuang menghidupi dua anaknya dengan segala keterbatasan.
Latar Belakang Kasus
Ketiga anak itu bernama Muhammad Ali Farizi (9), M Al Fajrin (6), dan Faujan (3). Mereka tinggal bersama nenek dan bibi setelah orang tua mereka merantau ke luar daerah. Kondisi ekonomi keluarga tergolong miskin ekstrem, rumah gubuk yang mereka huni hampir tidak layak huni, dan tidak ada aliran listrik sama sekali.
Sementara itu, di Pandeglang, Ibu Siti (nama disamarkan) selama satu dekade terakhir menumpang pada sebuah rumah gubuk tanpa listrik, mengandalkan lampu minyak dan penerangan sederhana untuk mengurus dua anaknya, Rina (7) dan Dedi (5). Ia bekerja serabutan sebagai penjual kue keliling, namun pendapatan yang didapatkan belum cukup untuk menutup kebutuhan dasar.
Kondisi Keluarga dan Anak‑Anak
Ketiga kakak beradik di Bima tetap bersekolah meski harus menempuh perjalanan jauh dengan sepeda tua. Di sisi lain, anak‑anak di Pandeglang juga tetap bersekolah, meski fasilitas belajar mereka terbatas pada cahaya lilin. Kondisi kesehatan mereka rentan, terutama karena kurangnya akses air bersih dan sanitasi.
- Ruang tidur: gubuk kayu berukir yang hampir roboh.
- Pangan: bergantung pada bantuan sembako dan makanan yang dibeli dengan uang hasil jualan.
- Pendidikan: anak‑anak harus belajar di sore hari dengan penerangan seadanya.
Respons Pemerintah NTB dan Pandeglang
Juru bicara Pemprov NTB, Ahsanul Halik, menyatakan bahwa pemerintah tidak tinggal diam. Koordinasi dengan Dinas Sosial Provinsi dan Kabupaten Bima telah dilakukan untuk menyalurkan bantuan darurat berupa makanan siap saji, terpal, dan tempat tidur.
Di Pandeglang, Dinas Sosial Kabupaten menyiapkan bantuan PKH dan bantuan sembako khusus untuk Ibu Siti. Namun, proses administrasi kependudukan masih menjadi kendala, karena belum semua anak terdaftar di kartu keluarga.
Upaya Penanganan dan Bantuan Sosial
Berbagai lembaga, termasuk Badan Zakat Nasional (Baznas) dan Kementerian Sosial, terlibat dalam program Asistensi Rehabilitasi Sosial (Atensi). Program ini bertujuan memberikan dukungan pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan hidup sehari‑hari.
Berikut langkah‑langkah konkret yang sudah dijalankan:
- Pendaftaran ulang anak di Disdukcapil untuk memastikan akses bantuan.
- Penyediaan paket makanan bergizi selama tiga bulan pertama.
- Pembangunan rumah sementara dengan atap seng untuk melindungi dari hujan.
- Penyediaan perlengkapan belajar (buku, tas, seragam) bagi anak‑anak.
Tantangan Kependudukan dan Pendidikan
Masalah administratif menjadi penghambat utama. Tanpa data kependudukan yang lengkap, bantuan sosial tidak dapat disalurkan secara optimal. Pemerintah daerah berupaya mempercepat proses pencatatan dengan melibatkan bidan desa dan tenaga kesejahteraan sosial kecamatan.
Pendidikan tetap menjadi fokus utama. Anak‑anak di kedua lokasi mendapat bantuan transportasi ke sekolah, serta program beasiswa sederhana untuk memastikan mereka tidak putus sekolah.
Harapan dan Langkah Kedepan
Para aktivis lokal menekankan pentingnya solusi jangka panjang, bukan sekadar bantuan darurat. Mereka mengusulkan program pelatihan keterampilan bagi ibu‑ibu seperti Siti, agar dapat meningkatkan pendapatan keluarga secara berkelanjutan.
Selain itu, pembangunan infrastruktur dasar seperti listrik desa, akses air bersih, dan perbaikan jalan menjadi prioritas agar keluarga tidak kembali terjebak dalam kemiskinan ekstrem.
Dengan sinergi lintas sektor—pemerintah, lembaga zakat, dan organisasi non‑profit—diharapkan kondisi gubuk reyot ini berubah menjadi rumah yang layak huni, dan anak‑anak dapat menikmati masa kecil yang lebih bermartabat.
FAQ
Bagaimana cara mengajukan bantuan PKH bagi keluarga yang belum terdaftar di KK?
Silakan menghubungi Dinas Sosial setempat, lengkapi data identitas, dan ikuti prosedur pendaftaran ulang di Disdukcapil.
Apa saja program pemerintah untuk anak‑anak yang tinggal di rumah gubuk tanpa listrik?
Pemerintah menyediakan bantuan darurat, program Atensi, beasiswa pendidikan, serta perbaikan fasilitas hunian melalui kerja sama dengan Baznas.
Mengapa anak‑anak di Pandeglang masih belum terdaftar lengkap di kartu keluarga?
Kendala administratif dan kurangnya pendampingan di tingkat desa menjadi penyebab utama, sedang ditangani oleh tenaga kesejahteraan sosial kecamatan.
Apakah ada program pelatihan keterampilan untuk ibu‑ibu seperti Siti?
Ya, Dinas Tenaga Kerja dan Koperasi daerah sedang merencanakan pelatihan menjahit, membuat kue, dan usaha mikro lainnya.
Bagaimana masyarakat dapat membantu secara langsung?
Dapat menyumbang melalui lembaga zakat, donasi barang kebutuhan dasar, atau menjadi relawan pendamping anak‑anak di lokasi.













