Advertisement

Nasib kontras dialami Kim Min-jae di panggung terbesar sepak bola dunia. Bek tengah Korea Selatan tersebut menjadi satu-satunya pemain dari skuad raksasa Jerman, Bayern Munchen, yang dipastikan tersingkir di fase grup Piala Dunia 2026. Sementara 16 rekan satu klubnya berhasil meloloskan negara masing-masing ke babak 32 besar, perjalanan Kim justru harus terhenti lebih awal menyusul kegagalan tragis Taegeuk Warriors di babak penyisihan.

Padahal, Bayern Munchen mencatatkan diri sebagai salah satu klub penyumbang pemain terbanyak pada putaran final Piala Dunia kali ini. Sebanyak 18 nama awalnya terdaftar membela 10 tim nasional berbeda di seluruh benua. Meski jumlah aktif berkurang menjadi 17 pemain akibat cedera yang dialami talenta muda Lennart Karl menjelang pembukaan turnamen, dominasi para penggawa Die Roten sejatinya sangat terasa hampir di setiap grup.

Dominasi Penggawa Bayern Munchen di Fase Gugur

Klub raksasa asal Bavaria tersebut mendistribusikan para pemainnya ke berbagai negara mapan dunia. Para pilar Bayern tersebar di tim nasional Jerman, Prancis, Inggris, Austria, Kroasia, Kolombia, Kanada, Jepang, Korea Selatan, hingga Senegal.

Advertisement

Hampir seluruh perwakilan dari klub tersebut menorehkan hasil manis selama tiga laga babak penyisihan. Jerman, Prancis, Inggris, dan Kolombia berhasil mengamankan tiket ke babak berikutnya dengan status juara grup masing-masing. Sementara itu, Austria, Jepang, Kroasia, serta Kanada sukses melangkah ke babak 32 besar setelah finis sebagai runner-up.

Senegal juga berhasil mengamankan tempat di babak gugur melalui jalur slot tim peringkat ketiga terbaik. Situasi ini menempatkan Korea Selatan sebagai satu-satunya tim berpenghuni pemain Bayern yang gagal melangkah lebih jauh dari penyisihan grup.

Daftar pemain Bayern Munchen yang tampil di Piala Dunia 2026 meliputi:

Advertisement
  • Jerman: Manuel Neuer, Jonathan Tah, Joshua Kimmich, Leon Goretzka, Jamal Musiala, Aleksandar Pavlovic
  • Prancis: Dayot Upamecano, Michael Olise
  • Inggris: Harry Kane
  • Austria: Konrad Laimer
  • Kroasia: Josip Stanisic
  • Kolombia: Luis Diaz
  • Kanada: Alphonso Davies
  • Jepang: Hiroki Ito
  • Korea Selatan: Kim Min-jae
  • Senegal: Nicolas Jackson, Bara Sapoko Ndiaye

Catatan pendaftaran skuad tersebut tetap memperhitungkan kehadiran nama-nama seperti Leon Goretzka dan Nicolas Jackson yang terdaftar dalam rombongan turnamen, meskipun dinamika transfer klub sempat mewarnai kepindahan mereka.

Kegagalan Korea Selatan dan Perhitungan Poin Grup A

Tereliminasinya Korea Selatan di fase awal terbilang mengejutkan banyak pihak. Pada laga pembuka Grup A, mereka sebenarnya sempat membuka asa setelah memetik kemenangan penting atas Republik Ceko. Namun, konsistensi permainan mereka mendadak surut di dua laga berikutnya.

Kekalahan beruntun dari Meksiko dan Afrika Selatan membuat perolehan poin Korea Selatan terkunci di angka tiga. Hasil tersebut menempatkan mereka di urutan ketiga klasemen akhir Grup A, di bawah Meksiko dan Afrika Selatan yang melaju otomatis.

Dalam format baru yang melibatkan delapan tim peringkat ketiga terbaik untuk lolos ke babak 32 besar, porsi Korea Selatan sangat tipis. Mereka akhirnya berada di urutan ke-10 dari 12 tim yang menempati peringkat ketiga di seluruh grup.

Penyebab utama kegagalan tersebut terletak pada selisih gol. Meski Senegal dan Korea Selatan mengumpulkan jumlah poin yang sama, Senegal berhak melaju berkat catatan selisih gol +2, sedangkan Korea Selatan harus tertahan dengan selisih gol -1.

Ekspektasi terhadap Korea Selatan sebelum turnamen dimulai sebenarnya sangat tinggi. Penampilan solid di tingkat regional membuat mereka diunggulkan mampu bersaing ketat di panggung global.

Pelatih Pandawa Football Academy Sukoharjo, Muhammad Khoirullah, sempat menempatkan skuad Korea Selatan sebagai salah satu kekuatan utama Asia yang diperhitungkan melangkah jauh selain Jepang.

“Korea Selatan secara skuad lebih diunggulkan daripada tim Asia lain seperti Iran, Australia, maupun Arab Saudi.”

— Muhammad Khoirullah

Krisis Internal KFA dan Keputusan Hong Myung-bo

Selama berlangsungnya fase grup, Kim Min-jae selalu diturunkan sejak menit awal dan bermain penuh tanpa tergantikan. Bek berusia 29 tahun itu memikul beban berat sebagai komandan di garis pertahanan. Evaluasi teknis menunjukkan bahwa penyebab utama keterpurukan tim bukanlah performa individu para pemain di lapangan, melainkan dinamika manajerial yang bergejolak.

Sorotan tajam publik sepak bola Korea Selatan tertuju pada Federasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) dan sang pelatih kepala, Hong Myung-bo. Penunjukan Hong sejak awal kepemimpinannya sudah diwarnai gelombang protes dari suporter.

Sebelum keputusan resmi dijatuhkan kepada Hong, KFA sempat melakukan negosiasi intensif dengan juru taktik asal Kanada, Jesse Marsch. Proses wawancara dilaporkan telah berjalan hingga tahap akhir. Namun, Ketua KFA Chung Mong-gyu mendadak mengalihkan pilihan kepada Hong Myung-bo, sebuah langkah yang dinilai mencederai transparansi tata kelola organisasi.

Gelombang kritik yang kian membesar pasca-kekalahan di Piala Dunia akhirnya membuat Hong Myung-bo mengambil langkah tegas. Ia secara resmi mengajukan pengunduran diri dari posisi pelatih kepala tak lama setelah kepulangan tim nasional.

“Mengingat besarnya dana publik dan dukungan negara yang digunakan untuk keikutsertaan di Piala Dunia, saya meminta Kementerian Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata melakukan investigasi menyeluruh terhadap insiden ini.”

— Lee Jae-myung

Masalah ini bahkan menyedot perhatian pucuk pimpinan pemerintahan. Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, melontarkan kekecewaan mendalam atas capaian tim nasional yang dianggap tidak sebanding dengan investasi serta dukungan publik yang telah diberikan.

“Saya tidak hanya terpukul dengan hasil di luar dugaan ini, tetapi juga benar-benar tidak bisa berkata-kata.”

— Lee Jae-myung

Presiden Lee menegaskan bahwa kementerian terkait akan diarahkan untuk melakukan audit menyeluruh terhadap administrasi olahraga nasional. Langkah reformasi disiapkan guna membenahi struktur tata kelola federasi agar kegagalan serupa tidak kembali terulang di masa mendatang.

Peta Persaingan Penggawa Bayern di Babak 32 Besar

Berbeda dengan Kim Min-jae yang harus kembali lebih awal ke klub untuk masa jeda, para pemain Bayern Munchen lainnya bersiap melakoni pertarungan sengit di babak fase gugur.

Jerman dijadwalkan berhadapan dengan Paraguay, sementara Prancis bakal menguji ketangguhan Swedia. Di partai lain, Austria harus melakoni laga berat menantang Spanyol, Jepang berhadapan dengan raksasa Amerika Selatan Brasil, dan Kroasia bertarung sengit melawan Portugal.

Berdasarkan skema bagan pertandingan, apabila Austria dan Kroasia mampu menaklukkan lawan-lawannya, kedua negara berpeluang saling berhadapan di babak 16 besar, menyusul langkah Kanada yang sudah lebih dulu mengamankan posisi di jalur sebelah.

Pertanyaan Umum

Mengapa Kim Min-jae menjadi satu-satunya pemain Bayern Munchen yang tersingkir?

Korea Selatan yang diperkuat Kim Min-jae gagal melaju dari penyisihan Grup A setelah kalah dalam perhitungan selisih gol pada klasemen tim peringkat ketiga terbaik. Sementara itu, 16 pemain Bayern Munchen lainnya sukses membawa negara masing-masing melangkah ke babak 32 besar.

Bagaimana hasil pertandingan Korea Selatan di fase grup Piala Dunia 2026?

Korea Selatan mengawali turnamen dengan kemenangan atas Republik Ceko. Namun, mereka menelan dua kekalahan beruntun dari Meksiko dan Afrika Selatan, sehingga finis di posisi ketiga Grup A dengan raihan tiga poin dan selisih gol -1.

Apa dampak dari kegagalan Korea Selatan di Piala Dunia 2026?

Pelatih Hong Myung-bo mengundurkan diri dari jabatannya setelah tim nasional tereliminasi. Selain itu, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menginstruksikan investigasi menyeluruh terhadap KFA terkait pengelolaan tim nasional dan penggunaan dana publik.

Sumber: tribunnews.com

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *