Lintaspedia.com – 03 Mei 2026 | Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Bank Mandiri (BMRI) baru saja selesai di Jakarta, dan hasilnya langsung jadi sorotan utama investor. Dengan keputusan membagikan dividen total Rp 44,47 triliun, BMRI mencetak rekor tertinggi dalam sejarahnya.
Rangkuman RUPS BMRI 2026
Rapat yang digelar pada 29 April 2026 menghasilkan beberapa agenda penting: pembagian dividen, rencana buyback saham, serta perubahan susunan pengurus. Secara keseluruhan, para pemegang saham menyetujui pembagian dividen sebesar 79% dari laba bersih tahun buku 2025.
Laba bersih konsolidasi BMRI tahun 2025 tercatat Rp 56,3 triliun, dengan pertumbuhan kredit 13,4% YoY dan dana pihak ketiga naik 23,9% YoY. Angka-angka ini menegaskan fundamental kuat bank terbesar di Indonesia.
Detail Dividen dan Yield
Dividen interim sebesar Rp 9,3 triliun telah dibayarkan pada 14 Januari 2026, sementara sisanya akan dibagikan setelah RUPS selesai. Total dividend per share (DPS) BMRI tahun 2025 mencapai Rp 476,95, naik dari Rp 466,18 pada tahun sebelumnya.
Dengan harga penutupan saham Rp 4.430 per lembar, dividend yield BMRI tercatat 10,77%, menjadikannya salah satu yang tertinggi di antara emiten perbankan tanah air. Bagi investor yang mengincar pendapatan pasif, angka ini sangat menggoda.
Pergerakan Harga Saham BMRI
Meskipun dividen menggiurkan, saham BMRI mengalami penurunan 13,92% pada akhir April 2026, ditutup pada Rp 4.390 per lembar. Penurunan ini menambah beban pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang secara keseluruhan juga mengalami koreksi signifikan tahun ini.
Penurunan BMRI memberi kontribusi -55,33 poin pada IHSG, menempatkannya di antara 10 saham laggards terburuk tahun 2026 bersama DSSA, BBCA, BREN, dan lainnya.
Konteks Pasar IHSG dan Laggards
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 30 April 2026 menunjukkan IHSG turun sekitar 19,55% ke level 6.956,81, level terendah sejak Juni 2025. Faktor-faktor yang memicu penurunan meliputi geopolitik, net sell asing Rp 49,87 triliun, serta kebijakan MSCI yang menunda perubahan komposisi indeks.
Selain BMRI, saham-saham besar seperti BBCA (turun 27,55%), BRI (turun 18,31%), dan BREN (turun 54,02%) turut menekan indeks. Analisis menunjukkan PE IHSG kini berada di kisaran 11‑12 kali, mendekati level terendah dalam lima tahun terakhir.
Strategi Investor di Tengah Volatilitas
Para analis menilai bahwa meski tekanan jangka pendek masih tinggi, nilai valuasi saat ini memberikan margin of safety yang cukup untuk akumulasi secara bertahap. Kunci utama adalah memilih saham dengan fundamental kuat dan dividend yield menarik, seperti BMRI.
Investor disarankan untuk memantau perkembangan kebijakan suku bunga The Fed, nilai tukar rupiah, serta langkah reformasi pasar modal seperti high shareholding concentration (HSC) dan peningkatan free float. Jika reformasi berjalan lancar, aliran dana asing dapat kembali mengalir pada kuartal III atau IV 2026.
Secara praktis, strategi yang dapat dipertimbangkan antara lain: diversifikasi portofolio dengan menambahkan saham sektor perbankan yang masih stabil, memanfaatkan dividend yield tinggi BMRI untuk pendapatan pasif, serta menunggu titik balik IHSG untuk menambah posisi pada saham-saham undervalued.
Dengan memahami dinamika dividen, yield, dan pergerakan harga, kamu dapat membuat keputusan investasi yang lebih terinformasi dan mengurangi risiko di pasar yang masih bergejolak.
FAQ
Apa itu dividend yield BMRI?
Dividend yield BMRI adalah persentase hasil dividen tahunan dibandingkan harga saham penutupan, yaitu sekitar 10,77%.
Berapa DPS BMRI tahun 2025?
DPS BMRI tahun 2025 tercatat Rp 476,95 per lembar saham.
Mengapa saham BMRI turun meski dividen tinggi?
Penurunan dipengaruhi oleh sentimen pasar bearish secara umum dan tekanan pada IHSG.
Apakah BMRI termasuk saham laggard?
Ya, BMRI berada di daftar 10 saham laggards dengan penurunan -13,92%.
Bagaimana cara memanfaatkan dividen BMRI?
Investor dapat menahan saham untuk mendapatkan pembayaran dividen interim dan final, serta mengandalkan yield tinggi sebagai pendapatan pasif.












