adsbanner 728x90 - Lintaspedia.com

Ringkasan Berita:

adsbanner 1080x1920 - Lintaspedia.com
  • FIFA mengkaji kemungkinan sanksi untuk Argentina setelah sejumlah pemain membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” usai mengalahkan Inggris 2-1 pada semifinal Piala Dunia 2026.
  • FIFA masih menelaah kasus tersebut, sehingga belum diputuskan apakah para pemain Argentina akan dijatuhi sanksi atau dilarang tampil pada final.
  • Football Enthusiast Gigih menilai sejarah Kepulauan Falkland memang membuat pertemuan Argentina dengan Inggris di lapangan hijau semakin panas.

Lintaspedia.com – Lintaspedia.com – FIFA tengah mempertimbangkan langkah disipliner terhadap Timnas Argentina setelah sejumlah pemain mereka membentangkan spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas” atau “Kepulauan Falkland adalah milik Argentina” seusai kemenangan 2-1 atas Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026.

Aksi tersebut dilakukan beberapa pemain Argentina sesaat setelah peluit panjang dibunyikan di Atlanta Stadium, Kamis (16/7/2026) dini hari WIB.

Spanduk yang merujuk pada sengketa kedaulatan Kepulauan Falkland itu langsung memicu reaksi keras dari Pemerintah Inggris, Pemerintah Kepulauan Falkland, hingga kalangan politik Inggris.

Kini, FIFA mengonfirmasi bahwa insiden tersebut sedang ditinjau oleh Komite Disiplin independen sebelum menentukan apakah Argentina akan dijatuhi sanksi menjelang final melawan Spanyol pada Senin (20/7/2026) pukul 02.00 WIB.

Polemik Spanduk Falkland Ancam Argentina Sebelum Final WC 2026

Beberapa pemain yang terlihat memegang spanduk tersebut di antaranya Lisandro Martinez, Cristian Romero, dan Giovani Lo Celso.

Tulisan “Las Malvinas son Argentinas” mengacu pada klaim Argentina atas Kepulauan Falkland, wilayah seberang laut Inggris di Samudra Atlantik Selatan yang telah lama menjadi objek sengketa kedua negara.

Isu tersebut memiliki sejarah panjang, termasuk Perang Falkland pada 1982 yang menewaskan 649 tentara Argentina dan 255 personel militer Inggris.

Latar belakang sejarah tersebut membuat setiap pertemuan Inggris dan Argentina di lapangan hijau selalu berlangsung dengan tensi tinggi.

Football enthusiast, Gigih, menilai duel kedua negara memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar pertandingan sepak bola. Menurutnya, laga Inggris melawan Argentina sarat dengan sejarah, politik, hingga harga diri dua bangsa.

“Kalau bicara historis, kita tidak bisa lepas dari aspek geopolitik. Rivalitas Inggris dan Argentina memang mencapai puncaknya setelah Perang Falklands (Malvinas), tetapi sebenarnya sudah dimulai jauh sebelumnya,” ujar Gigih dalam podcast Super Taktik di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.

“Perang tersebut menjadi salah satu titik penting yang memperbesar rivalitas kedua negara. Setelah itu, berbagai peristiwa terus bermunculan dan membuat tensi setiap pertemuan mereka semakin tinggi,” sambungnya.

FIFA Kaji Laporan Pertandingan

Melalui pernyataan resminya, FIFA menyebut proses evaluasi masih berlangsung sesuai prosedur disiplin yang berlaku.

“Sesuai prosedur standar, Komite Disiplin independen FIFA saat ini sedang menilai laporan pertandingan dan mempertimbangkan seluruh keadaan yang relevan sebelum memutuskan langkah lebih lanjut berdasarkan Kode Disiplin FIFA,” demikian bunyi pernyataan FIFA, dikutip dari Sportbible.

FIFA memang memiliki aturan yang melarang segala bentuk pesan politik dalam pertandingan maupun seremoni resmi turnamen.

Kasus serupa pernah terjadi pada 2014 ketika Federasi Sepak Bola Argentina didenda sebesar 20.000 poundsterling setelah membentangkan spanduk bertuliskan pesan yang sama menjelang laga persahabatan melawan Slovenia.

Pemerintah Inggris Minta FIFA Bertindak

Pemerintah Inggris mendesak FIFA melakukan penyelidikan menyeluruh atas insiden tersebut.

Menteri Perdagangan Inggris, Peter Kyle, menilai aksi para pemain Argentina bertentangan dengan prinsip utama Piala Dunia yang memisahkan olahraga dari politik.

“Piala Dunia memiliki salah satu prinsip utama bahwa politik harus dipisahkan dari sepak bola. Kini persoalan itu menjadi urusan FIFA dan saya berharap mereka melakukan penyelidikan secara menyeluruh,” kata Kyle.

Juru bicara Perdana Menteri Inggris, Sir Keir Starmer, juga menegaskan pemerintah mendukung penuh langkah tersebut.

“Piala Dunia mungkin bukan milik kami, tetapi Kepulauan Falkland jelas milik kami. Posisi kami tidak berubah. Penentuan nasib sendiri berada di tangan penduduk pulau dan komitmen kami terhadap Falkland tidak akan pernah goyah.”

Pemerintah Inggris kembali menegaskan bahwa politik seharusnya tidak mencampuri jalannya kompetisi sepak bola.

Falkland dan Politisi Inggris Ikut Bereaksi

Pemerintah Kepulauan Falkland juga mengecam tindakan para pemain Argentina.

Dalam pernyataan resminya, mereka menyebut aksi tersebut tidak sensitif terhadap sejarah konflik tahun 1982 yang masih meninggalkan trauma bagi masyarakat Falkland.

Mereka juga meminta FIFA menerapkan aturan secara konsisten apabila memang berkomitmen menjaga sepak bola tetap bebas dari kepentingan politik.

“Kami berharap FIFA menepati janjinya untuk memisahkan politik dari olahraga dan memberikan sanksi terhadap perilaku seperti ini sesuai aturan mereka sendiri,” tulis Pemerintah Kepulauan Falkland.

Sementara itu, Partai Liberal Demokrat Inggris bahkan mengirim surat resmi kepada FIFA agar para pemain Argentina yang terlibat dijatuhi larangan tampil pada final Piala Dunia 2026.

Ketua Partai Liberal Demokrat, Ed Davey, menilai FIFA harus bersikap konsisten.

Ia menyinggung kasus Rodri dan Alvaro Morata yang sempat mendapat hukuman larangan bermain satu pertandingan setelah menyanyikan lagu bertema politik mengenai Gibraltar pada 2024.

“Jika Rodri dan Morata dihukum karena menyanyikan ‘Gibraltar adalah Spanyol’, maka pemain Argentina yang membentangkan spanduk ‘Kepulauan Falkland adalah Argentina’ juga harus dilarang tampil di final,” ujar Davey.

Hingga kini FIFA belum mengumumkan apakah Argentina akan menerima hukuman sebelum partai final menghadapi Spanyol, namun hasil investigasi Komite Disiplin diperkirakan akan menjadi penentu nasib sejumlah pemain Albiceleste jelang laga perebutan gelar juara dunia.

(Tribunnews.com/Ali)

Sumber: tribunnews.com

adsbanner 728x90 - Lintaspedia.com

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.