Advertisement

PT Bank Jago Tbk (ARTO) tengah mempersiapkan peluncuran produk tabungan emas digital sebagai langkah strategis memperkuat layanan pengelolaan kekayaan atau wealth management. Produk baru ini dirancang untuk melengkapi instrumen investasi yang telah tersedia, memberikan opsi diversifikasi aset bagi nasabah di tengah meningkatnya literasi keuangan masyarakat Indonesia.

Layanan ini bertujuan membantu nasabah mengembangkan aset melalui berbagai instrumen yang disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing. Head of Wealth Management Bank Jago, Nyoman Sukmawati, mengungkapkan bahwa perseroan melihat ruang pertumbuhan yang sangat besar untuk layanan investasi di dalam negeri, terutama seiring dengan pergeseran perilaku konsumen menuju platform digital.

Ekosistem Investasi dan Basis Pengguna

Hingga Juni 2026, aplikasi Bank Jago telah mencatatkan 14,7 juta pengguna aktif. Dari total basis pengguna tersebut, sebanyak 3,6 juta nasabah telah terhubung langsung dengan ekosistem investasi perseroan yang mencakup platform manajemen investasi Bibit dan platform perdagangan saham Stockbit.

Advertisement

Integrasi antara perbankan dan investasi ini menciptakan ekosistem tertutup yang memudahkan nasabah untuk memindahkan dana dari rekening tabungan langsung ke instrumen investasi. Jumlah ini menunjukkan lonjakan signifikan, dengan pertumbuhan nasabah investasi pada tahun ini naik sekitar 20% dibandingkan tahun lalu yang tercatat mencapai 3 juta pengguna.

Nyoman Sukmawati menilai antusiasme masyarakat terhadap instrumen keuangan digital terus meningkat seiring dengan kemudahan akses teknologi dan antarmuka yang ramah pengguna. Data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga semester pertama 2026 turut mencatatkan jumlah investor di pasar modal nasional hampir mencapai 30 juta orang.

Tren positif makroekonomi ini mendorong perseroan untuk menangkap peluang membuka produk investasi di luar saham, reksa dana, dan obligasi yang sudah ada. Emas digital menjadi pilihan logis berikutnya karena karakteristiknya yang disukai masyarakat Indonesia sebagai aset lindung nilai.

Advertisement

“Kami sangat optimis melihat pertumbuhannya. Semakin banyak nanti nasabah yang juga akan mulai mencoba melihat, mendiversifikasi investasinya ke produk-produk seperti ini.”

— Nyoman Sukmawati, Head of Wealth Management Bank Jago

Prospek Emas Digital di Tengah Lonjakan Investor

Saat ini, komposisi dana kelolaan atau asset under management (AUM) nasabah di ekosistem Bank Jago masih didominasi oleh instrumen berisiko tinggi hingga menengah. Berdasarkan data hingga semester pertama 2026, alokasi aset tersebut terbagi dalam beberapa kategori utama:

  • Saham menguasai porsi terbesar dengan kontribusi 48,4% dari total dana kelolaan, mencerminkan tingginya minat pada aset pertumbuhan.
  • Reksa dana menempati posisi kedua dengan menyumbang 38,6% dari keseluruhan portofolio, menjadi pilihan bagi investor yang mencari diversifikasi otomatis.
  • Obligasi melengkapi diversifikasi aset dengan porsi sekitar 13%, menyediakan stabilitas dan pendapatan tetap.

Dari sisi volume transaksi, saham juga menjadi instrumen paling aktif dengan porsi 88% dari total perdagangan harian. Reksa dana berkontribusi 11,9%, sementara sisanya berasal dari obligasi. Kehadiran emas digital nantinya diharapkan dapat menyeimbangkan portofolio nasabah dengan aset berisiko rendah namun memiliki likuiditas tinggi.

Emas secara tradisional menjadi instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan gejolak geopolitik yang sangat diminati masyarakat Indonesia. Dengan format digital, nasabah dapat membeli emas dengan nominal yang sangat kecil, menyimpannya dengan aman tanpa biaya penyimpanan fisik, dan mencairkannya kapan saja ke dalam saldo rekening bank.

Nyoman Sukmawati menjelaskan bahwa perseroan secara rutin menghimpun masukan dari nasabah melalui berbagai kanal, termasuk media sosial dan survei internal. Masukan tersebut menjadi dasar pengembangan fitur baru, termasuk eksplorasi aset emas digital yang saat ini masih dalam kajian internal, pencarian mitra strategis, dan proses perizinan regulator.

Kinerja Keuangan yang Menopang Ekspansi

Rencana ekspansi produk ini didukung oleh fundamental keuangan perseroan yang solid dan terus membaik. Merujuk laporan keuangan semester pertama 2026, ARTO membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 189 miliar. Angka ini mencatatkan kenaikan 49% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 127 miliar.

Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh ekspansi penyaluran kredit, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), serta penambahan basis nasabah secara konsisten. Hingga akhir Juni 2026, total aset perseroan mencapai Rp 41,4 triliun, tumbuh 28% secara tahunan dari posisi Rp 32,4 triliun pada tahun sebelumnya.

Di sisi pendanaan, DPK Bank Jago mencapai Rp 27,6 triliun, meningkat 23% dari posisi tahun lalu. Dana murah atau CASA mendominasi struktur pendanaan dengan porsi 53% atau Rp 14,6 triliun. Dominasi CASA ini sangat krusial bagi bank berbasis teknologi karena menekan biaya bunga dan meningkatkan margin pendapatan bersih.

Sementara itu, deposito berkontribusi 47% atau Rp 13,1 triliun. Rasio kecukupan modal (CAR) perseroan juga tercatat sangat sehat di level 28,4%, memberikan bantalan modal yang tebal untuk menyerap potensi risiko dan mendanai ekspansi kredit di masa depan.

Penyaluran kredit turut tumbuh 24% menjadi Rp 26,6 triliun. Di tengah agresivitas ekspansi kredit, perseroan berhasil mempertahankan kualitas aset dengan rasio kredit bermasalah (NPL gross) yang sangat rendah, yakni hanya 0,8%. Angka ini berada jauh di bawah rata-rata industri perbankan nasional, membuktikan bahwa pertumbuhan bisnis tidak mengorbankan prinsip kehati-hatian.

Pertanyaan Umum

Apa tujuan Bank Jago meluncurkan tabungan emas digital?

Produk ini diluncurkan untuk melengkapi layanan wealth management dan memberikan opsi diversifikasi investasi bagi nasabah, melengkapi instrumen saham, reksa dana, dan obligasi yang sudah ada di ekosistem mereka.

Bagaimana kinerja keuangan Bank Jago pada semester pertama 2026?

Bank Jago mencatatkan laba bersih setelah pajak sebesar Rp 189 miliar, naik 49% secara tahunan, dengan total aset mencapai Rp 41,4 triliun dan rasio kredit bermasalah yang sangat rendah di angka 0,8%.

Berapa banyak nasabah yang terhubung dengan ekosistem investasi Bank Jago?

Hingga Juni 2026, tercatat sebanyak 3,6 juta nasabah telah terhubung dengan ekosistem investasi Bank Jago melalui platform Bibit dan Stockbit, dari total 14,7 juta pengguna aplikasi.

Sumber: Katadata

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *