Lintaspedia.com – 27 April 2026 | Jakarta, 26 April 2026 – Ketika pembahasan RUU Pemilu kembali mengemuka, satu isu yang paling menggelitik hati rakyat Indonesia ialah ambang batas parlemen. Ketua DPP Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Bestari Barus, mengungkapkan keprihatinannya bahwa ambang batas yang terlalu tinggi justru menutup pintu demokrasi. Dalam wawancara eksklusif, ia menegaskan bahwa suara ribuan pemilih terbuang sia‑sia karena partai mereka tak mencapai threshold nasional.
Kenapa Ambang Batas Parlemen Jadi Topik Hangat?
Ambang batas parlemen merupakan persentase suara nasional yang harus dicapai sebuah partai untuk memperoleh kursi di DPR. Saat ini, angka yang dibicarakan berkisar 4‑5 %, namun ada suara yang mendorong penurunan hingga 0 % agar semua partai kecil memiliki kesempatan masuk. Kritik utama datang dari kalangan progresif yang menilai sistem ini mengekang representasi rakyat.
5W1H: Apa, Siapa, Kapan, Di Mana, Mengapa, dan Bagaimana
- Apa: Ambang batas parlemen, atau threshold, adalah batas minimum suara yang harus dicapai partai untuk masuk DPR.
- Siapa: Bestari Barus (PSI) dan Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menjadi tokoh utama dalam perdebatan ini.
- Kapan: Diskusi intensif berlangsung sejak awal 2026, bertepatan dengan persiapan Pemilu 2029.
- Di Mana: Pembahasan terjadi di gedung DPR, serta dalam rapat internal partai politik.
- Mengapa: Tingginya ambang batas dianggap mengorbankan suara rakyat, terutama partai kecil dan calon independen.
- Bagaimana: DPR mengundang simulasi skema baru, sementara PSI mendorong penetapan ambang batas nol persen.
Suara PSI: Dari Pengalaman 2024 ke Harapan 2026
Bestari Barus menuturkan bahwa pada Pemilu 2024, PSI kehilangan hampir 500.000 suara karena tidak melewati ambang batas 4 %. “Rakyat merasa dikecewakan, karena calon yang mereka dukung tidak dapat melenggang ke Senayan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa keputusan Mahkamah Konstitusi yang menghapus ambang batas presiden memberi sinyal bahwa ambang batas parlemen juga bisa direformasi.
Pandangan Wakil Ketua DPR: Simulasi Tanpa Terburu‑Buru
Sufmi Dasco Ahmad menekankan bahwa proses legislasi tidak harus dipercepat. “Tahapan pemilu bisa tetap berjalan dengan undang‑undang lama, tanpa harus menunggu RUU baru,” kata Dasco di gedung DPR pada 21 April 2026. Ia meminta semua partai melakukan simulasi untuk mengukur dampak perubahan threshold, agar tidak ada pihak yang dirugikan secara tiba‑tiba.
Potensi Dampak Jika Ambang Batas Turun ke 0 %
Menurunkan ambang batas menjadi nol persen akan membuka peluang bagi partai mikro dan calon independen. Namun, ada risiko fragmentasi parlemen yang dapat menyulitkan pembentukan koalisi mayoritas. Ahli politik memperkirakan bahwa jumlah fraksi di DPR bisa melonjak dari 9 menjadi lebih dari 20, yang pada gilirannya menambah kompleksitas proses legislasi.
Bagaimana NasDem Memposisikan Diri?
Walaupun tidak ada pernyataan resmi yang dapat diakses, rumor beredar bahwa NasDem mengusulkan ambang batas naik menjadi 7 % dan berlaku hingga tingkat daerah. Langkah ini dianggap untuk memperkuat partai-partai besar dan mengurangi kepingan kursi kecil. Jika usulan ini terealisasi, suara rakyat yang berada di partai kecil akan kembali terpinggirkan.
Analisis Dampak Sosial‑Ekonomi
Penurunan ambang batas dapat meningkatkan kepercayaan publik terhadap institusi demokrasi. Survei independen menunjukkan bahwa 62 % pemilih merasa sistem politik saat ini tidak representatif. Di sisi lain, meningkatnya jumlah partai di DPR dapat memperlambat pengesahan kebijakan ekonomi penting, seperti reformasi pajak atau stimulus pasca‑pandemi.
Langkah Praktis yang Dapat Diambil Partai‑Partai
- Melakukan simulasi skema ambang batas 0 %, 2 %, 4 % dan 7 % untuk menilai dampak pada alokasi kursi.
- Menggandeng lembaga riset independen untuk mengevaluasi representasi pemilih di tiap provinsi.
- Mengoptimalkan program edukasi politik kepada konstituen, sehingga mereka memahami konsekuensi threshold.
Opini Publik: Suara Rakyat di Media Sosial
Di Twitter, hashtag #AmbangBatasParlemen trending selama dua hari berturut‑turut. Pengguna mengungkapkan kekecewaan mereka bila calon lokal tidak terpilih karena ambang batas nasional. Salah satu komentar berbunyi, “Kalau ambang batasnya tinggi, demokrasi kita kayak gerbang yang dikunci.”
Kesimpulan
Perdebatan tentang ambang batas parlemen bukan sekadar soal angka, melainkan tentang hak rakyat untuk didengar di Senayan. PSI menuntut penurunan threshold, sementara beberapa partai besar berusaha mempertahankan atau bahkan menaikkan angka tersebut. Apa pun hasilnya, transparansi simulasi dan partisipasi publik menjadi kunci agar kebijakan yang diambil tidak mengecewakan kembali rakyat.
FAQ
Apa itu ambang batas parlemen?
Ambang batas parlemen adalah persentase suara nasional yang harus dicapai sebuah partai untuk memperoleh kursi di DPR.
Kenapa ambang batas dianggap menghambat demokrasi?
Karena nilai tinggi dapat membuat suara pemilih pada partai kecil terbuang, sehingga tidak tercermin dalam perwakilan parlemen.
Bagaimana prosedur simulasi yang dilakukan DPR?
DPR meminta semua partai melakukan simulasi skema ambang batas berbeda untuk menilai dampak alokasi kursi sebelum perubahan resmi.
Apa risiko menurunkan ambang batas menjadi 0 %?
Risikonya adalah fragmentasi parlemen yang dapat menyulitkan pembentukan koalisi mayoritas dan memperlambat proses legislatif.
Siapa yang mendukung kenaikan ambang batas?
Beberapa partai besar, termasuk rumor usulan NasDem, mendukung kenaikan ambang batas menjadi 7 % untuk memperkuat posisi mereka.













