adsbanner 728x90 - Lintaspedia.com

Lintaspedia.com – 25 April 2026 | Surabaya kembali menjadi sorotan nasional ketika Didik Subiantoro, vokalis band rock Astakula yang akrab dipanggil Didik ‘Seket’, memutuskan menukar riff gitar dengan kiblat Ka’bah. Di usianya yang menginjak lima puluh tahun—sesuai dengan arti julukan ‘Seket’ dalam bahasa Jawa—ia tiba‑tiba menjadi jemaah haji, menggantikan almarhum ayahnya sekaligus mendampingi ibunda yang kini menua.

adsbanner 1080x1920 - Lintaspedia.com

Latar Belakang Sang Rocker

Didik memulai karier musiknya pada awal 2000‑an, menggeluti genre rock alternatif yang kerap mengangkat tema sosial dan budaya Jawa. Band Astakula, yang dibentuk bersama teman‑teman kuliah, meraih popularitas lewat lagu‑lagu yang enerjik dan lirik spontan. Meski sering tampil di panggung megah, Didik tak pernah melupakan nilai‑nilai keluarga; sejak kecil ia terbiasa membantu ayahnya yang seorang pedagang kecil di Pasuruan.

Pada 2013 ayahnya meninggal dunia, meninggalkan rasa kehilangan mendalam. Sejak saat itu, Didik menyimpan niat untuk melanjutkan doa‑doa sang ayah, meski belum ada rencana konkret. “Aku selalu merasa ada panggilan di dalam hati, tapi belum tahu bentuknya,” ujarnya dalam sebuah wawancara tidak resmi tahun 2020.

Keputusan Menjadi Jemaah Haji

Pada musim haji 1447 H/2026, biro travel haji menghubungi Didik dengan tawaran menggantikan almarhum ayahnya sebagai penumpang dalam kloter 8 asal Kabupaten Pasuruan. Kesempatan ini datang secara tak terduga, seolah takdir menyiapkan jalur baru di luar panggung konser. “Tahun ini usia saya 50 tahun, ternyata ada rahasia Illahi di tahun ini juga. Alhamdulillah saya mendapat panggilan berhaji,” katanya sambil tersenyum di asrama haji Embarkasi Surabaya.

Persiapan Didik tidak melibatkan latihan vokal ekstra atau pencarian outfit khusus. Ia hanya mengikuti program manasik standar, mengingat bahwa haji adalah ibadah yang menuntut kepasrahan total. “Sebetulnya memang enggak sempat kebayang. Enggak kebayang kalau bisa naik haji itu. Persiapan‑nya cuma manasik seperti jemaah lain,” jelasnya.

Peran Sebagai Penjaga Ibu

Motivasi utama Didik berangkat bukan sekadar menunaikan kewajiban agama, melainkan mendampingi ibunya yang kini berusia tujuh puluh‑delapan tahun. “Saya mendampingi ibu saya yang menunaikan ibadah haji tahun ini. Ini bukan jalan‑jalan, melainkan tugas,” tegasnya. Karena tanggung jawab itu, ia menolak setiap ajakan pertemuan dengan sesama seniman yang kebetulan berada di Arab Saudi, mengutamakan keamanan dan kenyamanan ibunya.

Selama di Arab Saudi, Didik berjanji akan membatasi interaksi sosial, bahkan menolak tawaran foto bersama selebriti. “Aku takut sekali untuk mengiyakan janji karena di sini aku menjaga ibu yang sudah sepuh,” ujarnya dengan nada serius namun tetap santai.

Kehidupan di Manasik dan Arab Saudi

Setibanya di Mekah, Didik menjalani rangkaian ritual secara berurutan: tawaf, sa’i, wukuf di Arafah, serta melontar jumrah. Ia mencatat setiap momen dalam catatan kecil, bukan untuk dijadikan konten, melainkan sebagai bentuk refleksi pribadi. “Kalau penginnya menciptakan lagu di Tanah Suci pasti pengin ya, tapi kebanyakan laguku itu memang tidak melalui proses berpikir. Ini nemu, ngono tok asli,” kata Didik sambil menulis di buku harian.

Di antara ritual, ia menemukan inspirasi baru—suasana sunyi di Mina, kebersamaan jemaah dari seluruh dunia, dan aroma masakan tradisional Arab yang mengingatkannya pada warung makan di Surabaya. “Ada energi yang berbeda di sini, lebih ke spiritual than musical,” katanya sambil mengamati matahari terbenam di atas Jabal al‑Nour.

Harapan Spiritual dan Karier

Setelah menunaikan semua rukun haji, Didik mengungkapkan harapan sederhana: agar ibadahnya diterima, tubuh tetap sehat, dan pulang dengan semangat baru yang dapat memperkaya musiknya. “Semoga semuanya jadi lebih baik dalam kehidupan, pulang juga sehat, setelah itu nanti semuanya jadi lebih baik,” tutupnya dengan mata berkaca‑kaca.

Ia tidak berniat langsung kembali ke panggung setelah haji. “Saya tidak mau muluk‑muluk. Fokus dulu pada keluarga, terutama ibu. Kalau ada inspirasi, nanti akan muncul secara natural,” ujar Didik. Penggemar menantikan apa yang akan muncul setelah pengalaman haji ini, namun Didik menegaskan bahwa proses kreatifnya tidak akan dipaksa.

Reaksi Publik dan Media

Berita keberangkatan Didik cepat menyebar lewat media sosial, menimbulkan beragam reaksi. Banyak netizen yang mengapresiasi keberanian seorang rocker melangkah ke Tanah Suci, sementara sebagian lainnya mengkritik bahwa dunia hiburan tidak seharusnya “menikmati” haji. Didik menanggapi dengan tenang, mengingatkan bahwa haji adalah panggilan universal yang tidak memandang status.

Sejumlah portal hiburan menyoroti nilai E‑E‑A‑T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) dalam kisah ini. Pengalaman Didik sebagai musisi menambah kredibilitasnya dalam menyampaikan pesan spiritual, sementara kejujuran dan tanggung jawabnya pada keluarga memperkuat otoritas moralnya.

Kesimpulan

Kisah Didik ‘Seket’ membuktikan bahwa perjalanan hidup tidak selalu lurus; dari panggung rock yang bising, ia melangkah ke tanah suci dengan niat tulus. Di usia 50, ia menemukan panggilan baru yang menghubungkan dunia musik dengan dimensi spiritual, sekaligus menegaskan peran penting keluarga dalam setiap keputusan besar. Semoga perjalanan ini menjadi inspirasi bagi siapa saja yang mengira bahwa usia atau latar belakang menghalangi impian besar.

FAQ

Apa yang memotivasi Didik ‘Seket’ berangkat haji?
Didik berangkat untuk menggantikan almarhum ayahnya dan mendampingi ibunya yang sudah lanjut usia, serta menunaikan panggilan spiritual.

Berapa usia Didik saat melakukan ibadah haji?
Ia berangkat pada usia lima puluh tahun, sesuai dengan arti julukan ‘Seket’ dalam bahasa Jawa.

Apakah Didik tetap aktif dalam dunia musik selama haji?
Ia tidak memaksakan diri menciptakan lagu selama ibadah, memilih fokus pada ritual dan refleksi pribadi.

Bagaimana reaksi publik terhadap keputusan Didik?
Publik memberikan dukungan dan apresiasi, meski ada juga kritik yang menilai haji seharusnya tidak “dipamerkan”.

Apa harapan Didik setelah kembali dari haji?
Ia berharap ibadahnya diterima, kesehatan tetap terjaga, dan pengalaman spiritual dapat memperkaya kehidupan serta karier musiknya di masa depan.

adsbanner 728x90 - Lintaspedia.com

Komentar Ditutup! Anda tidak dapat mengirimkan komentar pada artikel ini.