Lintaspedia.com – 10 April 2026 | Arus mudik Lebaran tahun ini menunjukkan perubahan signifikan dalam pola mobilitas masyarakat Indonesia. Data terbaru dari PT PLN (Persero) mengungkap lonjakan penggunaan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) hingga 4,14 kali lipat selama periode siaga Ramadan dan Idulfitri (RAFI) 1447 Hijriah, sekaligus menegaskan pergeseran preferensi konsumen menuju kendaraan listrik (EV) yang lebih ramah lingkungan.
Lonjakan Pengisian di SPKLU Selama RAFI
Pada periode 12–31 Maret 2026, tercatat 303.234 transaksi pengisian daya, meningkat drastis dari 73.161 transaksi pada periode yang sama tahun sebelumnya. Konsumsi listrik di SPKLU mencapai 7,16 juta kilowatt‑hour (kWh), naik dari 1,75 juta kWh pada 2025. Peningkatan ini merupakan bagian dari upaya Posko Nasional Sektor Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjaga kelancaran arus mudik dan arus balik Lebaran, serta memastikan keandalan pasokan energi nasional.
Faktor Lingkungan Percepat Adopsi EV
Penelitian Litbang Kompas yang melibatkan 500 responden dari lima provinsi (Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Sumatera Selatan) mengungkapkan bahwa isu polusi udara kini menjadi pendorong utama minat publik terhadap kendaraan listrik. Lebih dari 60 persen responden menyatakan pernah mengalami gangguan kesehatan akibat polusi, dan mayoritas menilai EV sebagai solusi bebas polusi. “Top of mind masyarakat kini adalah bebas polusi, sehingga kendaraan listrik dipandang sebagai alternatif ramah lingkungan,” kata peneliti Wirdatul Aini.
Infrastruktur dan Layanan SPKLU yang Ditingkatkan
PLN telah mengoperasikan 4.769 unit SPKLU di 3.097 titik seluruh Indonesia, dengan rata‑rata jarak antar stasiun sekitar 22 kilometer. Pada jalur mudik utama Trans Sumatra, Jawa, dan Bali, tersedia 1.681 unit SPKLU di 994 titik, meningkat sekitar 70 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Untuk mengantisipasi kebutuhan darurat, PLN menyiagakan 15 unit SPKLU Mobile di titik‑titik strategis, terutama di exit tol.
Selain kuantitas, kualitas layanan juga mengalami modernisasi. Beberapa SPKLU dengan tingkat penggunaan tinggi telah diupgrade menjadi fast charging dan ultra‑fast charging, mempercepat proses pengisian. Melalui aplikasi PLN Mobile, fitur Electric Vehicle Digital Services (EVDS) menawarkan Trip Planner untuk merencanakan rute dengan informasi lokasi SPKLU dan ketersediaan konektor, serta AntreEV untuk memantau antrean secara real‑time. Sistem pembayaran elektronik EV‑TAP yang diterapkan di sejumlah SPKLU jalur Trans Jawa juga mempermudah transaksi tanpa hambatan.
Tantangan dan Prospek Ke Depan
Meski pertumbuhan penggunaan SPKLU dan minat masyarakat terhadap EV menunjukkan tren positif, tantangan masih tetap ada. Beberapa responden masih menyuarakan kekhawatiran terkait kesiapan infrastruktur di daerah terpencil dan ketersediaan model EV yang terjangkau. Pemerintah dan PLN menanggapi hal tersebut dengan rencana penambahan jaringan SPKLU di wilayah kurang terlayani serta dukungan subsidi bagi produsen dan konsumen EV.
Secara keseluruhan, kombinasi kebijakan pemerintah, peningkatan infrastruktur, dan kesadaran lingkungan yang semakin tinggi menciptakan ekosistem yang kondusif bagi percepatan adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Lonjakan penggunaan SPKLU selama musim mudik menjadi indikator kuat bahwa masyarakat tidak hanya siap beralih ke energi bersih, tetapi juga mengandalkan dukungan layanan yang andal dan mudah diakses.
Ke depan, diharapkan pertumbuhan ini akan berlanjut, menjadikan EV sebagai pilihan utama dalam setiap perjalanan mudik, sekaligus berkontribusi pada penurunan emisi polusi udara nasional.












