Lintaspedia.com – 05 April 2026 | Timnas Italia kembali menelan pil pahit setelah gagal lolos ke Piala Dunia 2026, menandai kegagalan ketiga berturut‑turut sejak Qatar 2022. Kekalahan dramatis melawan Bosnia‑Herzegovina di Stadion Bilino Polje, Zenica, berakhir 4-1 lewat adu penalti, menutup harapan Azzurri untuk kembali menapaki panggung terbesar sepak bola dunia.
Drama Penalti yang Menyayat
Pertandingan dimulai dengan keunggulan Italia melalui gol cepat Moise Kean pada menit ke‑15. Namun, tekanan Bosnia‑Herzegovina meningkat pada babak kedua dan Haris Tabakovic menyamakan kedudukan pada menit ke‑80. Kedua tim pun terpaksa menempuh adu penalti. Italia kehilangan dua tendangan penting: Francesco Pio Esposito dan Bryan Cristante gagal mengeksekusi, sementara Sandro Tonali saja yang berhasil. Di pihak Bosnia‑Herzegovina, empat penendang berhasil menaklukkan gawang Gianluigi Donnarumma, mengantarkan skor akhir 4-1.
Kegagalan Berulang dan Dampaknya
Kegagalan kali ini menambah catatan kelam bagi tim yang pernah mendominasi dunia dengan empat gelar juara. Italia sebelumnya terpuruk pada playoff Qatar 2022, dan kini kembali berada di luar peta Piala Dunia. Kegagalan tiga kali berturut‑turut menimbulkan pertanyaan serius tentang strategi, regenerasi pemain muda, dan kepemimpinan di dalam FIGC. Tekanan publik dan media pun semakin tajam, menuntut perombakan total baik di lapangan maupun di ruang rapat.
Situasi Organisasi dan Persiapan Nations League
Tanpa agenda Piala Dunia, Italia hanya memiliki satu laga persahabatan melawan Yunani pada Juni 2026. Fokus utama kini beralih ke UEFA Nations League 2026/2027, di mana Azzurri tergabung di Grup A1 bersama Prancis, Belgia, dan Turki. Jadwal grup menantang: debut melawan Belgia pada 25 September, diikuti Turki, lalu konfrontasi berat melawan Prancis pada Oktober. Turnamen ini tidak hanya menjadi ajang pembuktian bagi pelatih baru yang sedang dipersiapkan, tetapi juga kesempatan untuk mengembalikan peringkat FIFA dan memulihkan kepercayaan publik.
Langkah Reformasi yang Diperlukan
Selain menyiapkan skuad kompetitif, FIGC harus segera menetapkan presiden definitif dan menyelesaikan proses rekrutmen pelatih. Regenerasi pemain muda menjadi prioritas, mengingat beberapa bintang senior seperti Federico Chiesa dan Alessandro Gamberini kini berada di fase akhir karier mereka. Pengembangan akademi, perbaikan infrastruktur, serta kebijakan bonus yang adil juga menjadi sorotan, terutama setelah laporan bahwa pemain menuntut bonus sebelum tiket Piala Dunia terbit.
Harapan di Nations League dan Jalan Menuju Euro 2028
Walaupun Nations League tidak sebergengsi Piala Dunia, performa yang baik dapat membuka peluang kualifikasi Euro 2028 serta meningkatkan moral tim. Pertandingan melawan Prancis dan Belgia dianggap sebagai ujian sejati bagi tim yang sedang dibangun kembali. Jika Italia berhasil mengumpulkan poin penting, mereka dapat menegaskan niat bangkit dan menyiapkan fondasi kuat bagi generasi berikutnya.
Kesimpulannya, kegagalan tiga kali berturut‑turut di Piala Dunia menandai krisis mendalam bagi sepak bola Italia. Namun, dengan reformasi struktural, fokus pada Nations League, dan investasi pada talenta muda, Azzurri masih memiliki peluang untuk kembali bersaing di level tertinggi. Waktu akan menguji apakah perubahan yang direncanakan dapat mengembalikan kejayaan yang pernah diraih Italia di panggung dunia.











