Lintaspedia.com – 12 April 2026 | Banjarbaru, Kalimantan Selatan – Pada sore hari kemarin, dua anak siswa Sekolah Dasar (SD) dari Banjarbaru mengalami nasib tragis setelah terjatuh ke dalam kolam bekas galian yang dipenuhi air hujan. Kedua korban, seorang anak laki-laki berusia 8 tahun bernama Dimas dan seorang anak perempuan berusia 9 tahun bernama Siti, dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis setempat. Sementara itu, dua sahabat mereka yang berada di lokasi berhasil selamat dengan selamat dan langsung dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lanjutan.
Insiden terjadi sekitar pukul 15.30 WIB di sebuah area pemukiman di Kelurahan Landasan Ulin, tepatnya di sebuah lubang galian bekas penambangan pasir yang selama ini telah berubah menjadi kolam kecil setelah hujan deras semalam. Karena tidak ada papan peringatan atau pengamanan, anak‑anak tersebut, yang sedang bermain bersama empat temannya, tidak menyadari bahaya yang mengintai.
Rangkaian Kejadian
Menurut keterangan saksi mata, empat anak bermain kejar‑kejar di sekitar area galian ketika tiba‑tiba Dimas terpeleset dan jatuh ke dalam air. Siti berusaha menolong temannya, namun arus kuat yang terbentuk akibat curah hujan tinggi membuat kedua anak itu terhisap ke dasar kolam. Dua teman lainnya, Rafi (7 tahun) dan Lina (8 tahun), langsung berteriak memanggil orang dewasa di sekitar.
Seorang warga bernama Pak Hadi, yang kebetulan melintas, segera menghubungi layanan darurat 112. Tim SAR Banjarbaru tiba dalam waktu kurang dari 15 menit, dilengkapi dengan perahu karet dan peralatan penyelamatan. Upaya penarikan Dimas dan Siti berlangsung intens selama lebih dari 30 menit, namun kondisi mereka sudah kritis saat berhasil diangkat ke permukaan. Rafi dan Lina yang sempat terjatuh namun berhasil memegang tepi kolam, diselamatkan lebih awal dan langsung dibawa ke Puskesmas Banjarbaru untuk pemeriksaan.
Reaksi Pemerintah dan Upaya Penyelamatan
- Gubernur Kalimantan Selatan, Sahbirin Noor, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan menegaskan akan dilakukan penyelidikan menyeluruh terkait keamanan area galian yang terbengkalai.
- Walikota Banjarbaru, Darmawan Jaya, memerintahkan penutupan sementara semua lubang galian di wilayah kota serta menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum untuk menutup atau memberi peringatan pada kolam-kolam berbahaya.
- Polri setempat membuka kasus kecelakaan ini dengan nomor laporan 2026/056/PolresBanjarbaru, dan akan melakukan penyidikan apakah ada unsur kelalaian dari pihak pengelola lahan.
- Kepala Dinas Pendidikan Banjarbaru, Ibu Nuning, menegaskan pentingnya edukasi keselamatan bagi anak‑anak usia dini, termasuk larangan bermain di area berbahaya tanpa pengawasan orang dewasa.
Langkah-Langkah Pencegahan yang Disarankan
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk melakukan hal‑hal berikut guna mencegah tragedi serupa:
- Menandai dan menutup semua lubang galian atau bekas pengerukan tanah yang dapat menampung air.
- Menggunakan pagar atau penghalang sementara pada area berisiko tinggi.
- Memberikan edukasi kepada anak‑anak tentang bahaya bermain di dekat air yang tidak terkontrol.
- Selalu mengawasi aktivitas anak‑anak, terutama pada musim hujan ketika kolam tak terduga dapat terbentuk.
- Melaporkan segera setiap temuan lubang berbahaya ke aparat setempat.
Kejadian ini menambah daftar panjang kecelakaan serupa di daerah Kalimantan Selatan, di mana cuaca tropis yang lembap dan curah hujan tinggi kerap mengubah lubang galian menjadi kolam mematikan dalam hitungan jam. Pihak kepolisian dan Dinas Pekerjaan Umum berjanji akan meningkatkan pengawasan serta melakukan inventarisasi semua lokasi galian yang belum ditutup secara resmi.
Dengan berakhirnya penyelidikan awal, keluarga Dimas dan Siti kini berada dalam masa berduka. Sekolah mereka, SDN 04 Banjarbaru, menyiapkan bantuan psikologis bagi siswa dan staf yang terdampak. Sementara itu, Rafi dan Lina, yang selamat, dipantau kondisi kesehatannya dan akan mendapatkan konseling agar trauma yang dialami tidak berlanjut.
Tragedi ini menjadi peringatan keras bagi seluruh warga Banjarbaru untuk lebih waspada terhadap bahaya tak terlihat di lingkungan sekitar, terutama bagi anak‑anak yang belum memiliki kemampuan menilai risiko secara mandiri.













