Lintaspedia.com – Peristiwa tenggelamnya kapal KM Nurul Salsa di perairan sebelah barat Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Rabu 15 Juli 2026 menyisakan penantian panjang bagi keluarga korban. Hingga hari ketujuh pasca-kejadian, operasi pencarian masih terus digelar oleh Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) beserta unsur gabungan lainnya, sementara sejumlah pertanyaan kritis tentang keselamatan pelayaran tradisional di kawasan tersebut mulai mengemuka.
Andi Eka Gurnati, salah satu keluarga korban, masih menunggu kabar dari tim penyelamat terkait lima orang anggota keluarganya yang sampai hari ini belum diketahui keberadaannya. Mereka adalah bagian dari 18 orang yang belum ditemukan sejak kapal tersebut tenggelam, menurut data dari Basarnas Makassar. Secara total, sebanyak 78 orang berada di atas KM Nurul Salsa saat peristiwa itu terjadi, dengan delapan di antaranya merupakan anak buah kapal.
Hingga pukul 19.00 WITA pada hari Senin, 20 Juli 2026, tim penyelamat mencatat total korban yang ditemukan dalam keadaan selamat sebanyak 59 orang. Sebanyak satu orang ditemukan meninggal dunia, sementara 18 orang lainnya masih dalam pencarian. Operasi pencarian dilakukan dengan memperluas area pelacakan menjadi 448 mil laut persegi, berdasarkan evaluasi pergerakan arus, angin, serta kemungkinan hanyutnya korban.

Cerita keluarga Andi Eka Gurnati memberikan gambaran mendalam tentang momen-momen dramatis saat insiden terjadi. Sebelum peristiwa itu, enam anggota keluarganya menghadiri acara pesta perkawinan di Pulau Jampea, Kepulauan Selayar, pada Minggu, 12 Juli 2026. Keenam orang itu adalah Muhammad Umar (88 tahun), Maridaeng (65 tahun), Naurah Bintany Syafiah (13 tahun), Sahrul Amin (53 tahun), Bau Intang (50 tahun), dan Rosmaeni (56 tahun). Mereka berangkat bersama-sama dari Pelabuhan Ujung Jampea menuju Pelabuhan Benteng Jampea, Selayar, pada Rabu subuh, 15 Juli 2026, dengan menumpang KM Nurul Salsa.
Eka, yang saat itu masih berada di kantornya di Benteng, Selayar, menghubungi salah satu keluarganya, Rosmaeni, sekitar pukul 10.00 WITA untuk mengetahui posisi kapal. “Saya hubungi karena anak saya [Naurah] kan ada di situ [kapal]. Saya mau tahu kepastiannya, dia posisi kapalnya sekarang di mana. Pada saat saya telepon, sudah panik, katanya ‘minta tolong, ini kapal sudah mati mesin’,” cerita Eka kepada wartawan di Makassar.
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Kelas III Jampea, Mohamad Nasir Radjab, membenarkan bahwa pihaknya menerima laporan mati mesin dari KM Nurul Salsa pada pukul 11.25 WITA. Dari situ, koordinasi dilakukan dengan Basarnas Selayar, SROP Selayar, Dinas Perhubungan Provinsi Sulawesi Selatan, dan pemerintah daerah untuk evakuasi dan penanganan darurat. Kapal tersebut dilaporkan belum sampai ke Pelabuhan Benteng Jampea saat mesinnya mati.
Satu hari sebelum keberangkatan fateful, pada Minggu 12 Juli 2026, enam anggota keluarga Andi Eka Gurnati sedang menghadiri pesta pernikahan di Pulau Jampea.
Di tengah kondisi panik, Eka terus berusaha menenangkan keluarganya lewat telepon. “Saya bilang: ‘sabar, sabar, sabar’. Sudah menuju ke situ kapal,” ujarnya. Dalam komunikasi tersebut, Eka sempat berbicara dengan mertuanya, Muhammad Umar. “Jadi sempat saya cerita dengan bapak mertua [Umar]. Saya tanyakan anak saya [Naura], ‘anak saya di mana?’. ‘Tidak apa-apa nak, anak kamu ada di sini. Saya peluk ini, tapi jangan panik nak karena posisi kapal sudah mau ke Pulau Polassi, kan sudah dilihat itu pulaunya’,” tutur Eka menirukan perkataan mertuanya.
Eka juga menghubungi Kepala Desa Polassi, Mustakim, untuk meminta bantuan evakuasi. Komunikasi dengan keluarganya terakhir kali dilakukan sekitar pukul 12.00 WITA. “Setelah itu tidak aktif, tidak ada yang aktif HP-nya,” ungkapnya. Pada pukul 13.00 WITA, Eka mendapat kabar bahwa enam orang korban, termasuk Rosmaeni, telah berhasil dievakuasi oleh pemerintah desa Polassi, meski dengan kendala ombak laut yang tinggi dan cuaca buruk.
Sementara itu, operasi pencarian gabungan terus dilakukan. Kepala Basarnas Makassar, Muhammad Arif Anwar, menjelaskan bahwa perluasan area pencarian dilakukan berdasarkan analisis arus dan kondisi cuaca. Jumlah personel yang terlibat mencapai 207 orang dari berbagai unsur, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Selayar dan TNI Angkatan Laut. Pencarian dilakukan dengan menyisir laut dan memantau area-area yang diperkirakan menjadi jalur hanyut korban.
Kendala utama dalam operasi ini adalah area pencarian yang sangat luas serta kondisi ombak yang tinggi. Hingga kini, tim SAR gabungan belum menemukan tanda-tanda keberadaan 18 orang yang masih hilang. Upaya pencarian masih akan dilanjutkan dengan mengerahkan seluruh potensi SAR gabungan yang ada.
Pertanyaan Kritis Pasca-Insiden
Insiden KM Nurul Salsa memunculkan sejumlah pertanyaan serius terkait keselamatan pelayaran di perairan Indonesia, khususnya untuk kapal-kapal kelas kecil atau tradisional. Pertanyaan pertama adalah mengapa ada 21 penumpang yang tidak terdaftar dalam manifes kapal. Kepala UPP Kelas III Jampea, Mohamad Nasir Radjab, menyatakan bahwa hal itu akan diperiksa lebih lanjut oleh Basarnas sebagai bagian dari investigasi kecelakaan.
Pertanyaan kedua mengenai keputusan berangkat meski cuaca buruk. Dosen dan Praktisi Infrastruktur dan Transportasi Universitas Hasanuddin, Lucky Caroles, mengatakan bahwa sudah terdapat peringatan tentang ketinggian gelombang sebelum keberangkatan. “Biasanya kalau sudah terjadi kecelakaan baru kita ribut,” katanya, menyoroti minimnya manajemen mitigasi kecelakaan yang proaktif di sektor pelayaran kecil.
Pertanyaan ketiga adalah tentang kemungkinan kelebihan muatan (overload). KM Nurul Salsa saat itu membawa 78 orang. “Apakah dia tidak overload? Mungkin manusianya cukup, tapi apakah overload barang?” tanya Lucky. Kapal tradisional atau semi-tradisional sering kali mengangkut barang bawaan penumpang dalam jumlah signifikan selain manusia.
Pertanyaan keempat berkaitan dengan kondisi mesin dan kesiapan awak kapal. Menurut penyintas, kapal tenggelam setelah mesinnya mati. Lucky Caroles menegaskan bahwa kecelakaan dapat terjadi apabila kondisi kapal belum layak berlayar, atau apabila kesehatan jasmani dan rohani awak kapal, serta waktu istirahat mereka, tidak memadai. Keselamatan juga sangat bergantung pada ketersediaan jaket pelampung dan teknologi pendeteksi kondisi kapal.
Memeriksa ketersediaan jaket pelampung dan kondisi mesin kapal sebelum berangkat merupakan langkah mitigasi dasar yang krusial untuk pelayaran jarak pendek.
Faktor-faktor tersebut, menurut Lucky, merupakan kombinasi dari kesiapan manusia, mesin, sistem, kelembagaan, dan kondisi cuaca. Untuk mencegah kejadian serupa, diperlukan kepatuhan ketat terhadap semua regulasi terkait keselamatan dan mitigasi kecelakaan. Peristiwa ini juga mengingatkan pada rentetan insiden serupa di Indonesia, seperti tenggelamnya KM Tunu Pratama Jaya, kapal di Buton Tengah, dan kecelakaan di Danau Toba, yang menunjukkan adanya masalah mendasar dalam pengawasan keselamatan pelayaran.
Bagi Andi Eka Gurnati dan keluarga korban lainnya, penantian kini berlangsung dalam kecemasan yang mendalam. “Kami masih terus menunggu kabar dari tim penyelamat. Untuk perasaan kami sekeluarga tidak bisa diutarakan, cemas, khawatir sudah pasti, berharap ada keajaiban secepatnya,” kata Eka. Harapan akan keajaiban itu kini diwujudkan dalam kerja keras tim penyelamat yang menyisir ratusan mil laut persegi dengan segala keterbatasan yang ada.
Pertanyaan Umum
Bagaimana kronologi tenggelamnya KM Nurul Salsa?
KM Nurul Salsa berangkat dari Pelabuhan Ujung Jampea menuju Pelabuhan Benteng Jampea pada Rabu subuh, 15 Juli 2026, dengan 78 orang di atasnya. Sekitar pukul 11.25 WITA, laporan diterima bahwa mesin kapal mati di perairan sebelah barat Pulau Polassi. Kapal kemudian tenggelam dalam kondisi cuaca buruk dengan ombak tinggi, menyebabkan 18 orang dinyatakan hilang.
Apa saja kendala dalam operasi pencarian korban KM Nurul Salsa?
Tim SAR gabungan menghadapi kendala utama berupa area pencarian yang sangat luas (448 mil laut persegi) dan kondisi ombak laut yang tinggi akibat cuaca buruk. Selain itu, adanya 21 penumpang tidak terdaftar dalam manifes juga menyulitkan pemetaan awal korban yang hilang.
Masalah apa yang terungkap dari insiden ini terkait keselamatan pelayaran?
Insiden ini memunculkan sejumlah masalah kritis, termasuk masih adanya kapal yang berangkat meski sudah ada peringatan cuaca buruk, potensi kelebihan muatan, kelaikan mesin yang perlu dipertanyakan, serta ketidakjelasan status lisensi dan kondisi kesehatan awak kapal. Ini menunjukkan masih lemahnya manajemen mitigasi kecelakaan di sektor pelayaran tradisional.
Ringkasan
Pada 15 Juli 2026, KM Nurul Salsa tenggelam di perairan barat Pulau Polassi, Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, setelah mengalami kerusakan mesin dalam cuaca buruk. Dari 78 orang di atas kapal, hingga hari ketujuh operasi pencarian, 59 orang ditemukan selamat, satu meninggal, dan 18 orang masih dinyatakan hilang. Operasi gabungan oleh Basarnas dan unsur lainnya terus dilakukan dengan memperluas area pencarian di tengah kendala ombak tinggi dan luasnya wilayah laut.
Insiden ini memunculkan pertanyaan serius terkait keselamatan pelayaran, termasuk keberangkatan kapal meski ada peringatan cuaca buruk, potensi kelebihan muatan, dan kelaikan mesin serta awak kapal. Kasus ini menggarisbawahi pentingnya mitigasi kecelakaan yang proaktif dan kepatuhan terhadap regulasi di sektor pelayaran tradisional untuk mencegah kejadian serupa.
Sumber: BBC News Indonesia




