Advertisement

Pertumbuhan laba per saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) kini berada pada lintasan yang lebih lambat. Hambatan di sisi daya beli konsumen massal dan tekanan biaya operasional dari ekspansi terus berlanjut, tercermin dari kinerja keuangan yang melambat hingga kuartal II dan semester I 2026.

Sentimen penyesuaian portofolio global turut membingkai pergerakan saham pemilik jaringan Alfamart ini. Potensi penurunan peringkat oleh MSCI dari Indeks MSCI Global Standard ke MSCI Global Small Cap pada Mei 2026 dikhawatirkan bisa menekan premi likuiditas pada valuasi price to earnings ratio (PER) perseroan.

Kinerja Semester I Tumbuh, tapi Momentum Melambat

Sepanjang semester I 2026, AMRT mencatatkan pertumbuhan pendapatan 6% secara year-on-year (YoY) menjadi Rp 67,95 triliun, dengan laba bersih yang naik 8% YoY mencapai Rp 2,02 triliun. Namun, gambaran kuartalan menunjukkan adanya perlambatan. Laba bersih kuartal II 2026 tercatat sebesar Rp 950 miliar, tumbuh hanya 5% YoY.

Advertisement

Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Willy Goutama, dalam riset tertanggal 10 Agustus 2026, mengatakan bahwa capaian ini mencerminkan tren pertumbuhan yang kurang bergairah. Penyebab utamanya adalah tidak meratanya pemulihan daya beli masyarakat di berbagai wilayah operasional AMRT.

Laju pertumbuhan penjualan gerai yang sama (same-store sales growth/SSSG) menjadi indikator kunci perlambatan tersebut. SSSG melambat menjadi hanya 2,6% pada kuartal II 2026, meskipun secara kumulatif semester pertama masih berada di level 4,4%.

“Hasil kinerja AMRT pada kuartal II 2026 kurang bergairah akibat lambatnya pemulihan daya beli konsumen serta kenaikan beban gaji dan depresiasi dari pembukaan gerai maupun pusat distribusi (distribution center/DC) baru,” ungkap Willy.

Advertisement

Perlambatan SSSG ini terjadi meskipun perseroan dan para pemasok telah melancarkan gelombang kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) sebesar 2% hingga 5% di berbagai kategori produk. Kenaikan inflasi tertinggi mencapai 7% hingga 9% pada produk air galon, es krim, dan susu cair.

Margin Kokoh Ditopang Efisiensi dan Bauran Produk

Di tengah perlambatan pertumbuhan penjualan, disiplin penyesuaian harga dan efisiensi jaringan logistik menjadi penopang utama margin profitabilitas perseroan. Margin kotor AMRT mengalami ekspansi sebesar 91 basis poin (bps) YoY menjadi 22,9% pada kuartal II 2026.

Ekoskpansi ini didorong oleh optimalisasi bauran produk bermargin lebih tinggi seperti makanan beku, minuman, camilan, dan produk perawatan diri. Peningkatan biaya operasional dari gerai baru memang membuat rasio beban operasional terhadap penjualan (opex-to-sales) masih berfluktuasi.

Analis Bahana Sekuritas, Reinard Tanukusuma, menilai kinerja margin operasional AMRT akan mengalami ekspansi secara struktural seiring dengan peningkatan utilisasi fasilitas logistik baru. “Kami memperkirakan rasio biaya operasional terhadap penjualan akan terus ternormalisasi dari puncaknya pada kuartal III 2025 seiring peningkatan kapasitas utilisasi di lima pusat distribusi baru AMRT,” ujar Reinard dalam riset tertanggal 6 Juli 2026.

Reinard menambahkan, pemulihan utilisasi lima DC baru, seperti DC Madiun yang berhasil mencapai kapasitas penuh hanya dalam enam bulan, akan terus mendorong peningkatan daya ungkit operasional. Penurunan tekanan dari anak usaha seperti Lawson yang ditargetkan mampu memangkas kerugian menjadi sekitar Rp 150 miliar tahun ini, serta kontribusi lini bisnis digital yang menguntungkan dengan porsi penjualan hingga 8,4%, akan memberikan tambahan margin bagi perseroan.

Fokus Ekspansi dan Persaingan yang Makin Ketat

Di sisi ekspansi jaringan, AMRT terus mengalihkan fokus ke wilayah luar Jawa. Kontribusi pendapatan dari luar Jawa meningkat menjadi 37,3% pada semester I 2026 (dibandingkan 35,8% pada semester I 2025), didorong oleh permintaan produk yang lebih kuat serta tingkat persaingan ritel yang relatif lebih rendah.

Peta persaingan ritel modern di dalam negeri menunjukkan dinamika yang ketat, khususnya persaingan antara AMRT dan Indomaret. Dalam enam bulan terakhir, Indomaret melancarkan strategi promosi yang lebih agresif untuk memacu pertumbuhan volume penjualan, tetapi harus mengorbankan tingkat profitabilitas. Sebaliknya, AMRT memilih untuk mempertahankan disiplin penetapan harga demi menjaga marjin profitabilitas ketimbang mengejar volume semata.

Analis UBS Global Research, Alex Manoonpol, menyoroti bahwa ketahanan pangsa pasar AMRT tetap solid di tengah ketatnya arus promosi pesaing. “Meskipun latar belakang persaingan makin ketat, AMRT terus meraih pangsa pasar yang sebagian besar didorong oleh berlanjutnya konsolidasi dari minimarket independen dan perdagangan tradisional ke format ritel modern terorganisir,” kata Alex dalam riset tertanggal 6 Agustus 2026.

Alex juga menilai inisiatif Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang digulirkan pemerintah berpotensi lebih difungsikan sebagai saluran distribusi produk komoditas bersubsidi seperti Minyakita dan pupuk, sehingga tidak akan menjadi pesaing langsung bagi bisnis ritel grosir modern terorganisir seperti Alfamart.

Pandangan Analis yang Bervariasi untuk Saham AMRT

Melihat kombinasi antara tantangan pertumbuhan EPS, sentimen rebalancing indeks MSCI, serta potensi efisiensi operasional, ketiga analis memberikan pandangan yang berbeda.

Reinard Tanukusuma dari Bahana Sekuritas dan Alex Manoonpol dari UBS Global Research kompak mempertahankan rekomendasi buy untuk saham AMRT. Reinard menetapkan target harga Rp 2.600 per saham, sementara Alex memberikan target Rp 2.300 per saham.

Sementara itu, Willy Goutama dari Maybank Sekuritas memilih untuk mempertahankan rekomendasi hold sembari menurunkan target harga saham AMRT menjadi Rp 1.400 per saham, mencerminkan pandangan yang lebih hati-hati terhadap laju pertumbuhan perseroan ke depan.

Sumber: Kontan

Advertisement

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *