Lintaspedia.com – 01 April 2026 | Indonesia kembali berduka setelah tiga anggota Kontingen Garuda XXIII‑S/UNIFIL tewas dalam serangan artileri di perbatasan Lebanon‑Israel pada akhir Maret 2026. Di antara mereka, Praka Farizal Rhomadhon menjadi sorotan utama karena ia meninggalkan seorang istri dan seorang anak balita di tanah air.
Profil Singkat Praka Farizal Rhomadhon
Praka Farizal Rhomadhon lahir pada 3 Januari 1998 di Kulon Progo, Yogyakarta. Ia menempuh pendidikan militer setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas, kemudian bergabung dengan TNI Angkatan Darat dan ditempatkan di Batalyon Infanteri 113 / Jaya Sakti, bagian dari Brigade Infanteri 25 / Siwah, Kodam Iskandar Muda, Aceh. Selama kariernya, ia menjabat sebagai Taban Provost 1 di Ru Provost Kompi Markas, sebuah posisi yang menuntut kedisiplinan tinggi dalam pengawasan internal satuan.
Pada April 2025, Farizal diberangkatkan ke Lebanon Selatan sebagai anggota Satgas Yonmek XXIII‑S/UNIFIL. Penugasan ini menandai tahun pertama pengabdiannya di misi perdamaian internasional. Selama di Lebanon, ia bertugas di wilayah Adchit Al Qusayr, sebuah zona yang dikenal rawan tembakan artileri akibat benturan antara Israel Defense Forces dan kelompok bersenjata di Lebanon.
Kehidupan Keluarga
Farizal menikah dengan Supinah, seorang wanita asal Kulon Progo yang tinggal bersama dia di Asrama Militer (Asmil) Kima Yonif 113/JS, Bireuen, Aceh. Pasangan ini dikaruniai seorang anak laki‑laki yang berusia dua tahun pada saat insiden terjadi. Supinah mengungkapkan bahwa suaminya dijadwalkan menyelesaikan tugas pada akhir April 2027 dan sudah menyiapkan tiket pulang untuk Mei 2027. Rencana pulang tersebut kini menjadi impian yang tak akan terwujud.
Kejadian Tragis
Pada Minggu, 29 Maret 2026, sebuah proyektil artileri tidak langsung menghantam posisi penjagaan Farizal di Desa Adchit Al Qusayr. Ledakan tersebut menewaskan Farik secara langsung, sementara beberapa rekan sekotanya mengalami luka-luka ringan. Insiden ini menambah daftar korban TNI yang gugur dalam misi UNIFIL, yang sebelumnya sudah kehilangan dua prajurit lainnya pada 30 Maret 2026.
Kejadian tersebut menegaskan betapa berbahayanya penugasan pasukan perdamaian, meski dilindungi oleh hukum internasional. Proyektil tersebut diperkirakan berasal dari baku tembak antara pasukan Israel dan kelompok militan di wilayah selatan Lebanon, yang sering kali melibatkan artileri jarak jauh.
Reaksi Pemerintah dan Publik
Kepala Staf Angkatan Darat serta Keluarga Besar TNI AD menyampaikan belasungkawa resmi kepada keluarga Farizal dan menegaskan komitmen Indonesia untuk terus berkontribusi dalam operasi perdamaian dunia. Di tingkat nasional, masyarakat luas memberikan dukungan moral melalui media sosial, menyoroti pengorbanan prajurit muda yang berani mengabdi di luar negeri.
Selain itu, sejumlah organisasi veteran dan komunitas Karang Taruna di Kulon Progo mengadakan peringatan khusus, menampilkan foto-foto perjalanan Farik serta mengingatkan generasi muda akan nilai pengabdian dan keberanian.
Warisan dan Harapan
Kepergian Praka Farizal Rhomadhon meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, rekan, dan bangsa. Namun, cerita hidupnya—dari masa muda di Yogyakarta, dedikasi di Yonif 113/Jaya Sakti, hingga pengabdiannya di medan internasional—menjadi contoh inspiratif bagi generasi prajurit selanjutnya. Keluarga yang ditinggalkannya kini mengandalkan dukungan pemerintah, termasuk bantuan sosial dan pendidikan bagi anaknya, demi memastikan masa depan sang anak tetap terjaga.
Tragedi ini sekaligus menjadi pengingat bagi dunia bahwa misi perdamaian tidak terlepas dari risiko nyata. Diharapkan pihak-pihak terkait dapat meningkatkan mekanisme perlindungan bagi pasukan penjaga perdamaian, sekaligus mempercepat upaya diplomatik untuk menurunkan ketegangan di perbatasan Lebanon‑Israel.
Dengan mengingat jasa dan pengorbanan Praka Farizal Rhomadhon, bangsa Indonesia terus mengukir rasa hormat yang mendalam kepada para pahlawan tanpa tanda jasa yang berjuang demi keamanan dan perdamaian dunia.











