PT Indosat Tbk (ISAT) atau Indosat Ooredoo Hutchison secara resmi merevisi naik alokasi belanja modal untuk mendukung strategi ekspansi infrastruktur telekomunikasi secara masif. Perusahaan menambah alokasi investasi sebesar 77 persen setelah mengamankan lisensi pita frekuensi baru dalam lelang resmi pemerintah.
Langkah strategis ini diambil sebagai tindak lanjut atas keberhasilan emiten telekomunikasi tersebut dalam memenangkan lelang frekuensi pita rendah dan menengah pada pertengahan tahun ini. Tambahan modal tersebut ditujukan untuk mempercepat penetrasi jaringan generasi kelima di berbagai wilayah Indonesia.
Manajemen perseroan mengonfirmasi bahwa alokasi capital expenditure awal yang disiapkan untuk tahun berjalan melesat cukup signifikan dibanding rencana semula. Peningkatan ini mencerminkan komitmen perseroan dalam memperkuat kapabilitas jaringan dan mempertahankan daya saing di industri telekomunikasi nasional.
“Kami juga meningkatkan panduan belanja modal (capex). Semula kami mengalokasikan Rp 13 triliun, kini meningkat menjadi Rp 23 triliun,” kata Presiden Direktur sekaligus Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Hutchison Vikram Sinha dalam konferensi pers paparan kinerja semester I 2026.
Vikram menjelaskan bahwa seluruh dana tambahan hasil revisi anggaran belanja modal tersebut diarahkan untuk membiayai pembangunan infrastruktur penunjang teknologi mutakhir. Keberhasilan dalam proses lelang frekuensi menjadi pemicu utama di balik keputusan penebalan anggaran ini.
Lelang pita frekuensi yang hasilnya diumumkan pada 10 Juli 2026 tersebut memberikan ruang baru bagi perseroan untuk mengekspansi ketersediaan sinyal secara lebih merata. Penambahan dana sebesar Rp 10 triliun murni dimanfaatkan untuk menggelar BTS baru dan memperluas cakupan layanan data berkecepatan tinggi.
Penguasaan spektrum anyar ini dinilai menjadi tolok ukur baru bagi arah pertumbuhan bisnis perseroan ke depan. Dengan ketersediaan lebar pita yang lebih memadai, kualitas konektivitas yang dirasakan masyarakat diperkirakan akan mengalami peningkatan substansial.
“Kami sangat disiplin dalam memperoleh spektrum yang memang kami butuhkan, dan kini fokus kami adalah memastikan manfaatnya dapat dirasakan oleh hampir 100 juta pelanggan kami,” ujar Vikram.
Selain meningkatkan kapasitas trafik, tambahan spektrum tersebut difungsikan untuk memperkuat identitas digital para pelanggan. Langkah ini sejalan dengan agenda transformasi digital nasional yang membutuhkan dukungan infrastruktur telekomunikasi yang andal.
Peta Penguasaan Spektrum dan Posisi Industri
Sebelum keikutsertaan dalam lelang pita frekuensi tahun ini, Indosat mencatat kepemilikan spektrum sebesar 135 MHz. Keterbatasan kapasitas pada alokasi lama memicu kebutuhan untuk menambah alokasi lebar pita seiring melonjaknya konsumsi data harian pengguna.
Melalui proses seleksi resmi tersebut, perseroan berhasil menambah alokasi sebesar 20 MHz pada pita 700 MHz dan 2,6 GHz sebesar 60 MHz. Kombinasi dua spektrum strategis ini memberikan keseimbangan antara jangkauan sinyal geografis dan kapasitas lalu lintas data harian.
Dengan adanya tambahan sebesar 80 MHz tersebut, portofolio spektrum frekuensi yang dikuasai Indosat kini melonjak signifikan menjadi 215 MHz. Angka tersebut setara dengan sekitar 30,2 persen dari total alokasi spektrum seluler yang tersedia di tingkat nasional.
Pencapaian dalam proses lelang tersebut juga menempatkan Indosat di posisi kedua pada seleksi alokasi pita 2,6 GHz, tepat di belakang PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel). Hasil ini semakin memperketat persaingan penyediaan konektivitas data antaroperator telekomunikasi terbesar di Tanah Air.
Penguatan alokasi spektrum di tingkat nasional memberikan fleksibilitas operasional bagi perseroan untuk merancang arsitektur jaringan yang lebih efisien. Pembagian peran antar-frekuensi menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas layanan di wilayah perkotaan maupun pedesaan.
Kinerja Keuangan Pertengahan Tahun Sebagai Penopang Ekspansi
Keputusan perseroan untuk menyuntikkan dana investasi tambahan dalam jumlah besar didukung oleh kondisi fundamental keuangan yang solid sepanjang enam bulan pertama tahun berjalan. Kinerja operasional yang positif memberikan ruang eksekusi ekspansi secara lebih percaya diri.
Perseroan membukukan total pendapatan konsolidasi sebesar Rp 30,7 triliun hingga akhir Juni 2026. Capaian ini menunjukkan pertumbuhan sebesar 13,1 persen apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dari sisi profitabilitas, laba periode berjalan perseroan mengalami lonjakan tajam menjadi Rp 4,42 triliun pada semester pertama 2026. Sebagai pembanding, pada semester pertama tahun 2025 lalu, laba bersih perseroan tercatat sebesar Rp 2,51 triliun.
Laporan keuangan perseroan juga mencatat indikator kinerja operasional utama yang mendukung tren pertumbuhan tersebut, antara lain:
- Pertumbuhan EBITDA sebesar 14 persen secara tahunan hingga mencapai Rp 14,6 triliun dengan margin EBITDA terjaga di angka 47,6 persen.
- Laba bersih yang dinormalisasi mengalami peningkatan signifikan sebesar 49,2 persen menjadi Rp 3,2 triliun.
- Kenaikan total trafik data pengguna yang tumbuh sebesar 19,9 persen seiring meningkatnya konsumsi konten digital masyarakat.
- Peningkatan pendapatan rata-rata per pengguna (ARPU) sebesar 17,3 persen hingga menyentuh angka Rp 46 ribu.
- Jumlah basis pelanggan seluler yang tetap stabil dan terjaga kokoh di tingkatan 93,4 juta pelanggan.
Sinergi Spektrum untuk Perluasan Layanan Digital
Jajaran manajemen optimistis bahwa keberadaan dua pita frekuensi baru tersebut akan saling melengkapi fungsi teknis dalam struktur jaringan seluler perseroan. Masing-masing alokasi pita frekuensi memiliki keunggulan karakteristik gelombang radio yang berbeda.
Direktur dan Chief Legal and Regulatory Officer Indosat Reski Damayanti menerangkan bahwa penyatuan alokasi frekuensi rendah dan tinggi akan memberikan dampak langsung terhadap pengalaman pengguna di lapangan.
“Dengan adanya 700 MHz akan meningkatkan coverage dan 2,6 GHz akan meningkatkan kapasitas.”
— Reski Damayanti
Reski menjelaskan lebih lanjut bahwa karakter gelombang 700 MHz sangat ideal untuk menembus dinding bangunan tebal di wilayah perkotaan serta menjangkau area pedesaan yang luas. Sementara itu, gelombang 2,6 GHz bertindak sebagai penguat kapasitas trafik di titik-titik padat penduduk.
Integrasi kedua pita frekuensi ini diproyeksikan membuka peluang komersialisasi baru di luar layanan seluler konvensional. Salah satu fokus pengembangan komersial perseroan adalah penyediaan layanan internet rumah tanpa kabel atau Fixed Wireless Access (FWA).
Layanan broadband berbasis FWA menjadi solusi alternatif yang efisien untuk memperluas penetrasi internet rumah berkecepatan tinggi tanpa perlu menggelar kabel serat optik hingga ke pemukiman. Skema ini dinilai memiliki potensi pasar yang sangat besar di Indonesia.
“Dengan tambahan spektrum yang semakin kuat, kita melihat tidak hanya meningkatkan kapasitas jaringan tapi juga membuka ruang untuk menghadirkan pengalaman digital yang lebih baik kepada para pelanggan kami,” tutur Reski.
Perseroan meyakini bahwa ketersediaan jaringan broadband seluler yang lebih cepat dan stabil akan memicu lahirnya berbagai inovasi ekosistem digital baru. Mulai dari aplikasi bisnis berbasis komputasi awan hingga integrasi teknologi kecerdasan buatan untuk sektor industri.
“Akan semakin banyak inovasi dan diharapkan mendukung transformasi digital Indonesia di masa depan,” tambah Reski mengakhiri keterangannya.
Pertanyaan Umum
Berapa besar alokasi belanja modal Indosat setelah memenangkan lelang frekuensi?
Indosat meningkatkan alokasi belanja modal (capex) tahun 2026 sebesar 77 persen, dari rencana awal sebesar Rp 13 triliun menjadi Rp 23 triliun. Tambahan anggaran sebesar Rp 10 triliun ini difokuskan sepenuhnya untuk pengembangan jaringan 5G dan alokasi spektrum baru.
Apa fungsi dari tambahan spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz bagi Indosat?
Pita frekuensi 700 MHz berfungsi untuk memperluas jangkauan sinyal (coverage) hingga ke wilayah pedesaan dan dalam gedung. Sementara pita frekuensi 2,6 GHz berfungsi untuk menambah kapasitas trafik data di kawasan padat penduduk serta mendukung penawaran layanan Fixed Wireless Access (FWA).
Bagaimana pencapaian kinerja keuangan Indosat pada semester I 2026?
Indosat membukukan pendapatan sebesar Rp 30,7 triliun atau tumbuh 13,1 persen secara tahunan. Laba periode berjalan melesat menjadi Rp 4,42 triliun, didorong oleh peningkatan trafik data sebesar 19,9 persen dan kenaikan ARPU menjadi Rp 46 ribu.
Sumber: Katadata







