Lintaspedia.com – 14 April 2026 | Air Terjun Tibu Ijo yang terletak di Desa Kekait, Kecamatan Gunung Sari, Lombok Barat menjadi sorotan publik setelah seorang wisatawan bernama Liza Pratiwi, asal Kota Mataram, tewas terseret arus pada Senin (5/4/2026). Insiden ini menimbulkan keprihatinan mendalam dan memicu penutupan sementara kawasan pemandian tersebut oleh pihak berwenang.
Rangkaian Kejadian
Pada sore hari sekitar pukul 13.00 WITA, Liza beserta temannya tiba di kawasan Air Terjun Tibu Ijo untuk berwisata. Ketika hendak kembali, cuaca mendadak berubah menjadi mendung disertai hujan deras. Kapolsek Gunungsari, Iptu Ida Bagus Adnyana Putra, mengungkapkan bahwa arus sungai tiba‑tiba meluap dan mengalir dengan sangat kuat.
Menurut keterangan teman korban, keduanya berusaha menahan diri dengan berpegangan pada batu besar. Teman Liza bahkan mengikat tangan korban menggunakan jaket agar tidak terlepas. Namun, upaya tersebut tidak berhasil karena arus terus menguat, sehingga keduanya terpisah dan hanyut.
Upaya Pencarian dan Penemuan Jenazah
Tim gabungan dari Polresta Mataram dan Satpol PP segera dikerahkan untuk mencari korban yang hilang. Pencarian intensif dilakukan selama dua hari, dengan memanfaatkan perahu, helikopter, dan relawan masyarakat. Pada Selasa (7/4/2026) sore, jenazah Liza Pratiwi berhasil ditemukan sekitar 200 meter di hilir lokasi kejadian. Identitas korban dikonfirmasi melalui dokumen resmi dan hasil otopsi menunjukkan penyebab kematian karena tertelan air dan trauma akibat arus kuat.
Penutupan dan Tindakan Pemerintah Daerah
Menanggapi insiden fatal ini, Camat Gunung Sari, Zulkifli, mengumumkan penutupan sementara kawasan pemandian Tibu Ijo pada Senin (13/4/2026). Keputusan penutupan diambil atas kesepakatan bersama antara pemerintah desa, masyarakat setempat, dan aparat keamanan. Seluruh jalur masuk kini dipasang plang larangan serta pos pemeriksaan untuk memastikan tidak ada pengunjung yang melanggar.
Zulkifli menekankan bahwa faktor alam menjadi penyebab utama kecelakaan tersebut. Ia menjelaskan bahwa munculnya awan gelap di puncak gunung menandakan potensi hujan deras dan banjir bandang. “Masyarakat setempat sudah mengetahui bahwa ketika awan hitam menutupi gunung, mandi atau berenang di sungai harus dihentikan,” ujarnya.
Rencana Penataan Kembali Wisata Tibu Ijo
Pihak desa berencana melakukan penataan kembali area wisata secara lebih terstruktur. Rencana tersebut mencakup pembuatan jalur resmi yang hanya dapat dilalui dengan pemandu berlisensi, serta penyediaan peralatan keselamatan seperti pelampung, helm, dan jaket pelampung. “Kami sudah menyiapkan tim pemandu yang lengkap dengan alat‑alat safety. Pengunjung tidak boleh nekat masuk tanpa pendamping,” tegas Zulkifli.
Selain itu, desa berupaya meningkatkan edukasi kepada wisatawan tentang bahaya aliran sungai pada musim hujan. Program penyuluhan akan dilaksanakan secara berkala, melibatkan sekolah, komunitas, dan operator tur lokal.
Reaksi Masyarakat dan Keluarga Korban
Keluarga Liza Pratiwi menyampaikan rasa duka mendalam sekaligus harapan agar kejadian serupa tidak terulang. Mereka menghimbau agar pihak berwenang terus meningkatkan pengawasan dan memberikan fasilitas keselamatan yang memadai di semua destinasi wisata alam.
Masyarakat sekitar Tibu Ijo juga menyampaikan keprihatinan atas kejadian ini, namun mendukung upaya penutupan sementara demi keselamatan. “Kami tidak ingin ada lagi korban. Penutupan ini memang langkah yang tepat,” kata salah satu warga setempat.
Insiden ini menegaskan kembali pentingnya kesiapsiagaan dan penegakan regulasi keselamatan pada destinasi wisata alam, terutama yang berpotensi mengalami perubahan cuaca mendadak. Diharapkan dengan langkah‑langkah preventif yang telah direncanakan, Air Terjun Tibu Ijo dapat kembali dibuka dengan standar keamanan yang lebih tinggi, sehingga wisatawan dapat menikmati keindahan alam tanpa mengorbankan nyawa.








