Lintaspedia.com – 13 April 2026 | JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola oleh Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) kini menjadi sorotan publik setelah terungkap fakta-fakta mencurigakan seputar armada motor listrik yang dipakai untuk distribusi makanan bergizi. Motor yang diumumkan sebagai Emmo JVX GT ternyata berbagi platform dengan motor impor asal China, Kollter ES1‑X Pro, namun dengan perbedaan signifikan dalam harga dan klaim lokalitas komponen.
Asal‑Usul Motor MBG dan Kontroversi Harga
Menurut laporan lapangan, motor listrik yang dioperasikan oleh petugas MBG dibeli dengan nilai pengadaan sekitar Rp 42 juta per unit. Namun, kreator konten Aryo Pamungkas mengunggah video viral pada 12 April 2026, menuding bahwa motor tersebut hanyalah produk impor bernama Kollter ES1‑X Pro yang di‑re‑branding menjadi Emmo JVX GT. Aryo juga mengklaim bahwa harga pasar motor asal China tersebut berkisar antara Rp 8 juta hingga Rp 10 juta, jauh di bawah angka yang dibayarkan pemerintah.
Spesifikasi Resmi Emmo JVX GT
PT Adlas Sarana Elektrik, yang berbasis di Bogor, menyatakan bahwa Emmo JVX GT diproduksi dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) sebesar 48,5 %. Motor ini dibanderol secara resmi dengan harga Rp 56.800.000, lebih tinggi daripada angka pengadaan yang disebutkan sebelumnya. Berikut rangkuman spesifikasi teknis yang diumumkan:
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Penggerak | Mid‑drive BLDC dengan Smart Gear Box |
| Daya Standar | 3.800 W (puncak 7.000 W) |
| Kecepatan Maksimum | 80 km/jam |
| Baterai | 72 V 31 Ah, jarak tempuh 70 km |
| Pengisian Cepat | 30 %–80 % dalam 1 jam |
| Dimensi (P×L×T) | 2.080 mm × 860 mm × 1.150 mm |
| Ground Clearance | 320 mm |
| Berat Kosong | 110 kg |
| Daya Angkut | 200 kg |
| Roda Depan | 19 inch |
| Roda Belakang | 18 inch, dual purpose |
| Rem | Combi Brake System (CBS) ganda |
Data di atas menunjukkan bahwa motor ini memang memiliki komponen berkualitas tinggi, namun tidak menutup kemungkinan sebagian besar komponen kritis masih bersumber dari luar negeri.
Kollter ES1‑X Pro: Motor Impor yang Sama Nama, Berbeda Harga
Kollter ES1‑X Pro merupakan produk yang dipasarkan di Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada. Meskipun memiliki DNA platform yang sama dengan Emmo JVX GT, motor ini dijual dengan harga yang jauh lebih rendah di pasar Barat. Analisis mendalam mengungkap bahwa kedua motor diproduksi oleh pabrikan yang sama, dikenal juga sebagai Tinbot di Jerman, namun varian yang dijual di Indonesia mengalami penyesuaian branding dan tambahan komponen lokal untuk memenuhi regulasi TKDN.
Yenna Yuniana: Sosok Di Balik Tender Motor MBG
Di tengah keributan ini, nama Yenna Yuniana muncul sebagai bos pemenang tender motor MBG. Latar belakangnya yang semula tak dikenal oleh warga setempat, bahkan sempat tinggal di sebuah kos‑kosan yang kini dijuluki “Gedung Putih” karena kondisi interiornya yang bersih dan rapi. Yenna berhasil memenangkan tender dengan penawaran yang mencakup komitmen TKDN dan layanan purna jual, meskipun detail proses seleksi masih dipertanyakan.
Reaksi Publik dan Tindakan Pemerintah
Pengungkapan tersebut memicu protes dari kalangan aktivis anti‑korupsi dan konsumen. Mereka menuntut transparansi dalam proses pengadaan serta audit independen terhadap harga dan spesifikasi motor yang dibeli. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dijadwalkan menggelar rapat internal pada minggu depan untuk meninjau kembali prosedur tender MBG dan memastikan tidak ada praktik mark‑up berlebihan.
Implikasi bagi Program Gizi dan Kebijakan Transportasi
Jika motor MBG ternyata merupakan produk impor ber‑re‑branding dengan harga yang tidak wajar, hal ini dapat mengurangi efektivitas alokasi anggaran untuk program gizi nasional. Anggaran yang seharusnya dialokasikan untuk bahan pangan berharga tinggi mungkin akan terpaksa dipotong, mengancam kelangsungan program yang menargetkan ribuan anak-anak di daerah rawan gizi.
Pengawasan lebih ketat terhadap pengadaan barang pemerintah, khususnya dalam sektor teknologi bersih, menjadi pelajaran penting. Pemerintah diharapkan dapat memperbaiki mekanisme evaluasi tender, meningkatkan partisipasi produsen dalam negeri, dan memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan benar‑benar memberikan nilai maksimal bagi masyarakat.
Dengan sorotan media yang terus meningkat, diharapkan transparansi dan akuntabilitas akan terjalin lebih kuat, sehingga program Makan Bergizi Gratis dapat kembali fokus pada tujuan utamanya: menyediakan nutrisi yang cukup bagi mereka yang paling membutuhkan.











