Lintaspedia.com – 10 April 2026 | Penjualan mobil listrik di Indonesia terus menjadi sorotan utama industri otomotif. Dua segmen utama, Battery Electric Vehicle (BEV) dan Plug‑in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), bersaing ketat untuk menguasai pangsa pasar yang masih berkembang. Pada akhir 2025, data penjualan menunjukkan perbedaan signifikan dalam preferensi konsumen, kebijakan pemerintah, serta kesiapan infrastruktur pengisian. Artikel ini mengupas tuntas perbandingan keduanya, mengidentifikasi faktor pendorong, dan meninjau proyeksi ke depan.
Tren Penjualan 2023‑2025
Menurut data yang dikumpulkan oleh asosiasi dealer otomotif, total unit BEV yang terjual di Indonesia pada tahun 2023 mencapai 4.200 unit, meningkat menjadi 7.800 unit pada 2024, dan mencapai 11.500 unit pada akhir 2025. Sementara itu, penjualan PHEV menunjukkan pertumbuhan lebih stabil: 10.500 unit pada 2023, 14.300 unit pada 2024, dan 18.900 unit pada 2025. Dengan angka tersebut, PHEV masih mencatat volume penjualan hampir dua kali lipat dibandingkan BEV.
Faktor Harga dan Insentif Pemerintah
Harga beli awal menjadi faktor penentu utama. Mobil BEV umumnya dibanderol 20‑30 % lebih mahal daripada PHEV sekelas karena biaya baterai yang masih tinggi. Pemerintah telah memperkenalkan insentif pajak penjualan sebesar 10 % untuk kendaraan listrik, namun manfaat tersebut belum cukup menutup selisih harga. PHEV, yang masih mengandalkan mesin bensin konvensional, dapat diproduksi dengan biaya lebih rendah, menjadikannya pilihan yang lebih ramah kantong bagi konsumen menengah.
Infrastruktur Pengisian
Ketersediaan stasiun pengisian cepat (Fast Charge) masih terpusat di kota‑kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Pada akhir 2025, total titik pengisian publik mencapai 1.250 unit, dengan kapasitas BEV mendominasi 60 % dari total. PHEV, yang dapat mengisi bahan bakar konvensional, tidak terlalu tergantung pada jaringan ini, sehingga konsumen merasa lebih fleksibel dalam penggunaan harian.
Biaya Operasional dan Perawatan
Dalam jangka panjang, BEV menawarkan biaya operasional lebih rendah. Tanpa mesin internal combustion, biaya servis dapat berkurang hingga 40 % dibandingkan PHEV. Namun, biaya penggantian baterai (setelah 8‑10 tahun) tetap menjadi beban potensial yang signifikan. PHEV tetap memerlukan perawatan mesin bensin, oli, dan sistem transmisi, meskipun intensitasnya lebih ringan dibandingkan mobil ICE tradisional.
Preferensi Konsumen
Survei perilaku pembeli otomotif 2025 mengungkapkan bahwa 48 % responden lebih tertarik pada PHEV karena rasa aman dapat mengisi bensin bila baterai habis, sementara 32 % memilih BEV karena kepedulian lingkungan. Sisanya (20 %) masih ragu dan menunggu perkembangan infrastruktur.
Perbandingan Ringkas
| Aspek | BEV | PHEV |
|---|---|---|
| Harga Beli Awal (Rata‑rata) | Rp 600‑800 juta | Rp 450‑650 juta |
| Jarak Tempuh Listrik (km) | 300‑450 | 50‑80 (EV mode) |
| Biaya Servis Tahunan | Rp 2‑3 juta | Rp 3‑5 juta |
| Penjualan 2025 (unit) | 11.500 | 18.900 |
| Insentif Pemerintah | 10 % pajak | 5 % pajak |
Proyeksi 2026‑2028
Analisis pasar memperkirakan bahwa penjualan BEV akan melaju tajam apabila jaringan pengisian cepat ditambah menjadi lebih dari 3.000 titik pada 2027. Pada skenario optimal, BEV dapat menutup kesenjangan penjualan dan mencapai pangsa pasar 35 % pada 2028. PHEV diprediksi tetap mendominasi sekitar 45 % pasar kendaraan listrik, terutama di segmen keluarga menengah yang mengutamakan fleksibilitas.
Kesimpulannya, meskipun BEV menawarkan keunggulan lingkungan dan biaya operasional jangka panjang, PHEV masih menjadi pilihan utama konsumen Indonesia pada 2025 karena harga lebih terjangkau, dukungan infrastruktur yang masih terbatas, dan rasa aman yang ditawarkan oleh mesin bensin. Perubahan kebijakan insentif serta percepatan pembangunan stasiun pengisian akan menjadi kunci bagi BEV untuk memperlebar pangsa pasar di tahun‑tahun mendatang.













