Lintaspedia.com – 10 April 2026 | Seoul bersiap menyambut pemilihan kepala daerah pada 3 Juni 2026 dengan intensitas politik yang memuncak. Partai Demokrat (DP) telah mengukuhkan Chong Won‑o, mantan kepala distrik Seongdong, sebagai kandidat resmi mereka setelah melalui proses primary yang menggabungkan suara anggota partai dan survei opini publik. Keputusan ini menandai pergantian strategi DP dalam menghadapi kompetisi sengit melawan Partai Kekuatan Rakyat (PPP) yang menyiapkan tiga kandidat kuat: mantan walikota Oh Se‑hoon, legislatif muda Park Soo‑min, dan mantan anggota DPR Yun Hee‑suk.
Profil Kandidat DP: Chong Won‑o
Chong Won‑o menapaki karier politik sejak tahun 2000 sebagai asisten anggota Majelis Nasional. Ia pertama kali terpilih menjadi kepala distrik Seongdong pada pemilihan lokal 2014 dan berhasil mempertahankan jabatan tersebut selama tiga periode berturut‑turut. Popularitasnya meroket pada akhir 2025 ketika Presiden Lee Jae‑Myung membagikan laporan survei yang menunjukkan 93 % responden puas dengan kinerja Chong sebagai pemimpin distrik.
Dalam primary DP, Chong berhasil meraih mayoritas suara tanpa harus menghadapi putaran kedua, mengalahkan dua pesaing internal yang berpengalaman, yakni Park Ju‑min dan Jeon Hyeon‑hui. Keputusan final ini disampaikan oleh Rep. So Byung‑hoon, ketua komite pemilihan partai, yang menegaskan bahwa proses tiga hari tersebut mencerminkan keseimbangan antara aspirasi anggota partai dan keinginan publik.
Strategi PPP dan Persaingan Ketat
Di sisi konservatif, PPP masih berjuang menentukan calon tunggalnya. Oh Se‑hoon, mantan walikota Seoul yang pernah menjabat 2011‑2017, menjadi favorit utama. Namun, munculnya Park Soo‑min, seorang legislatif pemula, serta Yun Hee‑suk yang pernah menjadi wakil dalam DPR, menambah dinamika internal PPP. Debat internal yang berlangsung pada akhir pekan lalu diperkirakan akan menghasilkan kandidat final dalam minggu mendatang.
Analisis Park Myung Soo
Park Myung‑soo, seorang analis politik senior yang kerap muncul di media televisi dan portal daring, menilai bahwa pemilihan ini akan menjadi barometer perubahan arah politik nasional. Menurutnya, keberhasilan Chong Won‑o bergantung pada kemampuannya mengubah citra “pemerintahan distrik” menjadi platform kebijakan metropolitan yang lebih luas, termasuk penanganan transportasi, perumahan, dan inovasi teknologi.
Park menambahkan, “Jika DP dapat memanfaatkan dukungan basis urban yang kuat, terutama di wilayah Seongdong, mereka memiliki peluang signifikan untuk menggeser dominasi PPP yang selama ini kuat di daerah pinggiran kota.” Ia juga menyoroti pentingnya koalisi lintas sektoral, mengingat isu-isu seperti kenaikan pajak properti yang akan diberlakukan pada 9 Mei mendatang dan kebijakan penjualan rumah yang dapat memicu reaksi pemilih kelas menengah.
Isu-isu Kunci dalam Kampanye
- Pajak Properti: Kementerian Keuangan mengumumkan bahwa pemilik lebih dari satu rumah harus mengajukan izin penjualan sebelum 9 Mei 2026 untuk menghindari tarif pajak yang lebih tinggi.
- Transportasi Umum: Chong berjanji memperluas jaringan kereta bawah tanah dan meningkatkan layanan bus listrik di distrik Seongdong sebagai contoh kebijakan hijau.
- Keamanan dan Kebijakan Luar Negeri: Dengan ketegangan di Timur Tengah dan perbincangan tentang pengiriman prototipe KF‑21 ke Indonesia, isu keamanan menjadi sorotan publik, memaksa calon walikota untuk menegaskan posisi mereka.
Prediksi Hasil
Survei independen yang dirilis pada awal April menunjukkan persaingan sangat ketat, dengan selisih hanya beberapa poin antara Chong Won‑o dan Oh Se‑hoon. Namun, dinamika internal PPP yang masih belum final dapat membuka celah bagi DP untuk meraih mayoritas suara.
Jika Chong berhasil memanfaatkan jaringan sosial media dan dukungan tokoh publik seperti Presiden Lee, peluangnya untuk memenangkan mayoritas suara menjadi lebih realistis. Di sisi lain, PPP harus menyatukan dukungan di antara tiga kandidat internalnya untuk menghindari fragmentasi suara.
Secara keseluruhan, pemilihan walikota Seoul 2026 bukan hanya tentang siapa yang akan memimpin ibu kota, melainkan juga menandakan arah politik nasional menjelang pemilihan legislatif mendatang. Semua mata kini tertuju pada strategi kampanye, kebijakan ekonomi, serta kemampuan masing‑masing kandidat dalam menjawab tantangan urbanisasi cepat.
Dengan hanya satu bulan tersisa menjelang pemungutan suara, kampanye semakin intensif, debat publik semakin tajam, dan warga Seoul menantikan keputusan yang akan membentuk masa depan kota metropolitan terbesar di Asia ini.













